Showing posts with label Fekah. Show all posts
Showing posts with label Fekah. Show all posts

IN MY HEAD: ?

Sunday, February 27, 2011

Beragama Islam Secara Kaaffah

teladan

(1). Bagaimana kecenderungan mufassirin (mutaqaddi-min – mutaakhirin) dalam menyimpulkan perintah memasuki Islam secara kaffah sesuai teks ayat : أدْخـُلوُا فِى السِّـلْمِ كَافَّةً (QS. al-Baqarah : 208)?
Jawaban :
Kecenderungan Mufassirin dalam menafsirkan perintah masuk Islam secara kaffah ada dua golongan yaitu :
1.    Perintah masuk Islam bagi seluruh umat manusia.
2.    Perintah terhadap umat Islam agar menerapkan syari’at secara penuh dengan segala kemampuannya.
المراجع:
التفسير الكبير للإمام فخر الدين محمد بن عمر الرازى {ط.دار الكتب العلمية}
(يَاأيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا) بِِالألْسِنَةِ (أدْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَافَّةً) أى دُومُوا عَلَى الإِسْلاَمِ فِيمَا يَسْتَأنِفُوْنَهُ مِنَ العُمْرِ وَلاَ تَخْرُجُوا عَنْهُ وَلاَ عَنْ شَرَائِعِهِ …. الى أن قال … قَالَ القَفَّالُ (كافة) يَصِحُّ أنْ يُرْجَعَ الَى المَأمُورِينَ بِالدُّخُولِ اى أُدْخُلُوا بِأجْمَعِكُمْ فِى السِّلمِ وَلاَ تَفَرَّقُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا – الى ان قال-  وَيَصْلُحُ أنْ يُرْجَعَ اِلَى الإِسْلاَمِ كُلُّهُ اى فِى كُلِّ شَرَائِعِهِ، قالَ الوَاحِدِى رَحِمَهُ الله: هَذَا ألْيَقُ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ لأنَّهُمْ أُمِرُوا بِالقِيَامِ كُلِهَا
Terjemah :
Firman Allah (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian dalam Islam secara keseluruhan”. Maksudnya tetaplah kalian semua diatas agama Islam sejak awal permulaan dan janganlah kalian keluar dar Islam dan syariat Islam  -sampai perkataan mufassir-  Imam Qaffal berkata : kata “kaaffah = keseluruhan” bisa kembalikan kepada mereka yang diperintah masuk Islam, sehingga maksudnya : masuklah kalian kesemuanya dalam agama Islam dan janganlah berpisah-pisah dan jangan pula berbeda-beda,  -sampai perkataan mufassir-  dan pastas pula kata “kaaffah = keseluruhan” dikembalikan kepada Islam, yakni seluruh syariat Islam. Al Wahidi ra berkata : pendapat ini lebih layak dengan dhahirnya tafsir karena mereka (orang-orang mukmin) diperintah melaksanakan keseluruhan syariat Islam.
تفسير النسفى الجزء الأول ص. 104-105
يا أيها الذين آمنواادخلوا فى السلم وبفتح السين حجازى وهو الاستسلام والطاعة أي استسلموا لله وأطيعوه أو الإسلام والخطاب لأهل الكتاب لأنهم آمنوا بنبيهم وكتابهم أو للمنافقين لأنهم آمنوا بألسنتهم كافة لا يخرج أحدمنكم يده عن طاعته حال من الضمير فى ادخلوا أى جميعا أو من السلم لانها تؤنث كأنهم أمروا أن يدخلوا فى الطاعات كلها أو فى شعب الإسلام وشرائعه كلها وكافة من الكف كأنهم كفوا أن يخرج منهم أحد باجتماعهم
Terjemah :
“Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian semua didalam keselamatan” , salmi dengan dibaca fathah sinnya itu menurut Ahli Hijaz yang artinya menyerah dan taat. Maksudnya menyerahlah kalian kehadirat Alloh dan taatlah kepada-Nya. Atau Islam dan berarti pembicaraan ini ditujukan kepada Ahli Kitab, karena mereka Iman kepada Nabi-Nya dan Kitab-Nya,atau pembicaraan ditujukan kepada orang-orang munafik karena mereka beriman hanya dengan lisannya. Kata kaaffah (secara keseluruhan) artinya tak satupun dari kalian yang keluar dari taat kepada Alloh, sehingga lafadz Kaffah itu menjadi Haal dari dhomir yang ada pada  Udkhuluu yang semakna denga jami’an yang artinya  semua atau kaaffah menjadi haal dari Assilmi karena ia muannats. Seakan-akan mereka diperintah untuk melakukan seluruh ketaatan atau cabang-cabang Islam dan syariat-syariatnya. Lafadz Kaaffah dari kata Al Kaffa, seakan-akan mereka mencegah jangan sampai seorangpun dari mereka  keluar sebabmereka  telah berkumpul.
التفسير المنير للدكتور وهبة الزحيلي جز 2 ص 340 ط : دار الفكر المعاصر
الاسلام كل لايتجزء فمن امن به وجب عليه الأخذ به كله فلا يختار منه مايرضيه ويترك مالايرضيه او يجمع بينه وبين غيره من الأديان لأن الله تعالى امر باتباع جميع تعاليمه وتطبيق كل فرائضه واحترام مجموع نظامه بالحل او الإباحة والحظر او الحرمة
Terjemah:
Agama Islam sesuatu yang utuh yang tak boleh dipecah-pecah, maka barang siapa beriman kepada islam maka ia wajib mengambil keseluruhannya. Jadi dia tidak boleh memilih hukum Islam yang ia senangi dan meninggalkan hukum Islam yang tidak ia sukai atau mengumpulkan antara Islam dan agama-agama yang lain, karna Allah Ta’ala memerintahkan mengikuti seluruh ajaran-ajaran Islam,  menerapkan semua kewajiban-kewajibannya dan memulyakan semua aturan-aturannya tentang halal dan haram.
)2(. Apakah manifestasi berislam secara kaffah mengharuskan pemberlakuan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara (konstitusional) dan kehidupan bermasyarakat (kultural) di Indonesia ?
Jawaban :
Penerapan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara (konstitusi) dan dalam kehidupan bermasyarakat (kultur) adalah tanggung jawab bersama setiap muslim. Usaha menerapkan hukum Islam dalam konstitusi negara harus dilaksanakan dengan cara-cara yang jauh dari kekerasan. Tahapan amar ma’ruf nahy munkar adalah satu-satunya cara yang dapat ditempuh dalam memperjuangkan berlakunya hukum Islam dalam negara.

solat

Gambar Hiasan

بغية المسترشدين  ص : 271
وَالاسْلاَمُ لاَيَسْمَحُ المُسْلِمَ اَنْ يَتَّخِذَ مِنْ غَيْرِ شَرِيْعَةٍ الله قَانُونًا وَكُلُّ مَا يَخْرُجُ عَنْ نُصُوصِ الشَّرِيعَةِ اوْ مَبَادئِهَا العَلِيَّةِ اَو رُوْحِهَا التَشْرِيْعِيَّةِ مُحَرَّمٌ تَحْرِيْمًا  قَاطِعًا عَلَى المُسْلِمِ بِنَصِّ القُرْانِ الصَّرِيْحِ
Terjemah :
Islam tidak memberi toleransi kepada orang Islam untuk menjadikan undang-unfang dari selain syariat Allah. Dan setiap sesuatu yang keluar dari nash syariat atau dasar-dasar syariat yang luhur atau (ruh) jiwa tasyri’iyyah adalah diharamkan secara pasti atas orang muslim berdasarkan dalil nash al Qur’an yang jelas.
بغية المسترشدين:271 دار الفكر
(فائدة) –الى ان قال- وَمِنْهَا تَجِبُ أنْ تكُونَ الأحْكَامُ كُلُهَا بِوَجْهِ الشَّرْعِ الشَّرِيْفِ وَأمَّا أحْكَامُ السِّيَاسَةِ فَمَا هِىَ إلاَّ ظُنُونٌ.
Terjemah :
(Faidah) sampai perkataan mushannif : Sebagian diantaranya, semua hukum harus memakai syariat yang mulia, sedangkan hukum siyasah (politik) tiada lain hanyalah menggunakan prasangka-prasangka.
تفسير ابن كثير جز 2 ص : 16
وقال علي بن ابى طلحة عن ابن عباس قوله ومن لم يحكم بما انزل الله فاؤلئك هم الكافرون قال ومن جحد ما انزل الله فقد كفر ومن اقر به ولم يحكم به فهو ظالم فاسق
Terjemah :
Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah (artinya) : “ Barang siapa tidak menghukumi dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang kafir”, bahwa barang siapa mengingkari hukum yang ditutrunkah Allah maka dia kafir dan barang siapa mengakui hukum Allah namun dia tidak menghukumi dengannya dia itulah orang dhalim dan fasik.
غاية  تلخيص المراد ص : 263
يجب على الحاكم الوقوف على احكام الشريعة التى اقيم لها ولا يتعداه الى احكام السياسة بل يجب عليه قصر من تعدى ذلك وزجره وتعزيره وتعريفه ان الحق كذا
Terjemah :
Wajib atas seorang hakim tetap konsisten pada hukum-hukum syariat sesuai tujuan dinobatkannya hakim itu dan jangan sampai melampaui sampai pada hukum-hukum siyasah (politik), bahkan ia wajib membatasi orang yang melanggarnya, mencegahnya, menta’zirnya dan memberitahu bahwa hukum yang benar adalah begini.
)3(. Berdosakah orang Islam di Indonesia karena membiarkan tidak diamalkannya ajaran syari’at Islam oleh negara tempat ia menetap tinggal ?
Jawaban :
Bagi yang mampu dan mempunyai akses untuk perjuangan berlakunya hukum Islam maka harus benar-benar melaksanakan tanggung jawabnya, sehingga pabila mereka (yang mampu) tidak ada usaha untuk berlakunya syariat Islam di Indonesia maka berdosa. Bagi masarakat umum  berkewajiban memberi dukungan penuh demi berlakunya hukum Islam.
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قالَ سَمِعتُ رَسو لَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَن رَأى مِنكُمْ مُنكَرًا فَليُغَيِّرْهُ بِيَدِه فَاِن لَم يَسْتطِعْ فَبِلِسانِه فَانْ لَمْ يَسْتطِعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الايْمَانِ  (رواه البخارى )
Terjemah :
Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab dia berkata : aku mendengan Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia memberantasnya dengan tangan (kekuasaan) nya, lalu jika ia tidak mampu maka memberantasnya dengan lisannya, lalu jika tidak mampu maka memberantasnya dengan hatinya dan demikian itu peling lemahnya iman. (HR: Bukhari)
الغنية لطالب طريق الحق جز 1 ص : 51
وَقالَ الشَيْخُ عَبدُ القَادِرِ الجَيلانِى رضِيَ الله عَنهُ فَالمُنْكِرونَ ثلاثةُ اَقسَامٍ قِسْمٌ يَكُونُ اِنْكارُهُ بِاليَدِ وَهُمُ الأئِمَّةُ وَالسَّلاطِينُ وَالقِسْمُ الثانِى اِنْكارُهُم بِاللِسَانِ دُونَ اليَدِ وَهُم العُلمَاءُ وَالقِسمُ الثالِثُ اِنْكارُهُم بِالقَلْبِ وَهُم العَامَّةُ
Terjemah :
Syaikh Abdul Qodir Jailani berkata :
Orang-orang yang menginkari (menentang) itu ada tiga macam :
-    Ingkar dengan kekuatan yaitu ingkarnya para pemimpin dan penguasa.
-    Yang kedua ingkar dengan lisan bukan dengan kekuatan yaitu ingkarnya para ulama’
-    Yang ketiga ingkar dengan hati yaitu ingkarnya orang-orang umum.
حاشية الجمل شرح المنهج جز: 5  ص : 182 – 183
وبأمر بمعروف ونهى عن المنكر اى الامر بواجبات الشرع والنهي عن محرماته اذا لم يخف على نفسه او ماله او على غيره مقسدة المنكر الواقع
Terjemah :
Perintah kebagusan mencegah kemungkaran artinya perintah dengan kewajiban-kewajiban syara’ dan mencegah dari perkara yang diharamkan syara’. kalau memang dia tidak takut pada kerusakan yang terjadi pada dirinya, hartanya atau yang lain, dengan kerusakan yang nyata.
تفسير البيضاوي ج: 2 ص: 328
ومن   لم يحكم   بما أنزل الله مستهينا به منكراله فأولئك هم الكافرون لاستهانتهم به وتمردهم بأن حكموا بغيره ولذلك وصفهم بقوله الكافرون و الظالمون و الفاسقون فكفرهم لإنكاره وظلمهم بالحكم على خلافه وفسقهم بالخروج عنه
Terjemah :
Barang siapa menghukumi tidak sesuai hukum yang diturunkan Alloh bahkan dia malah menghinanya, dan menginkarinya, maka dihukumi Kafir. Karena dia menghina terhadap hukum dan menolaknya dengan gambaran dia menghukumi tanpa memakai hukumnya Alloh, karena itu Alloh mensifati mereka dengan predikat kafirun, dholimun, dan fasiqun. Sifat kafir karena mereka inkar dan  aniaya  dengan menghukumi dengan selain huku Alloh dan kefasikan mereka karena mereka keluar dari hukum-hukum-Nya.
)4(. Bolehkah masing-masing WNI yang beragama Islam atau kelompok mereka menerapkan secara sepihak hukum publik yang menjadi bagian dari syari’at Islam (seperti hukum jinayat( ?
Jawaban :
Penerapan syariat Islam di bidang pemberlakuan hudud (hukuman mati, potong tangan, cambuk  dan lain-lain) adalah hak prerogratif negara. Masyarakat umum tidak boleh melaksanakan sendiri-sendiri atau pada kelompok masing-masing.

26women

Gambar Hiasan


Tambahan:
Bagi organisasi-organisasi Islam seperti NU, diharapkan memberikan masukan-masukan kepada pemerintah untuk berlakunya hukum Islam dalam konstitusi negara.
الفقه الإسلامى وادلته الجزء السادس ص:58
ثَانِيًا لا يُقِيمُ الحُدُودُ إلاَّ الإمَامُ اَو مَنْ فَوَّضَ اِلَيهِ إلإِمَامُ بِاتِّفَاقِ الفُقَهَاءِ لأَنَّهُ لَمْ يَقُمْ حَدٌّ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وَسَلمَ إلاَّ بِإذْنِهِ وَلا فِى أيَّامِ الخُلفَاءِ إلاَّ بِإذْنِهِمْ وَلأَنَّ الحَدَّ حَقُّ اللهِ تعَالى يَفْتقِرُ اِلى الإِجْتِهَادِ وَلا يُؤْمَنُ فِيه الحَيفُ فَلَمْ يَجُزْ بِغَيرِ إذْنِ الإمَامِ
Terjemah :
Kedua: tidak boleh menegakkan hukuman kecuali seorang imam atau orang yang dikasih kepercayaan (mandat) oleh imam. bitthifaqil fuqoha’ (sesuai kesepakatan ahli fiqih), karena had (hukuman) tidak ditegakkan pada masa hidupnya Nabi SAW, kecuali dapat izin dari beliau dan pada masa Khulafaur rasyidin kecuali dapat izin dari beliau-beliau. Karena hukuman (had) itu haqqulloh yang membutuhkan ijtihad  (kesungguhan yang maksimal), dan padahal tak ada jaminan aman dari penyelewengan, karenanya maka  tidak boleh (menghukum) kecuali dengan izin imam.
الموسوعة الفقهية 3:167
اَلإسْتِبْدَادُ المُفْضِى اِلىَ الضَّرَرِ اَوِ الظُّلْمِ مَمْنُوْعٌ كَالإسْتِبْدَادِ فِى احْتِكَارِ الاَقْوَاتِ وَاسْتِبْدَادِ اَحَدِ الرَّعِيَّةِ فِيمَا هُوَ مِنَ اخْتِصَاصِ الاِمَامِ مِثلَ الْجِهَادِ وَالاِسْتِبْدَادِ فِى إقَامَةِ الحُدُودِ بِغَيْرِ إذْنِ الإمَامِ.
Terjemah :
Sewenang-wenang yang dapat menimbulkan terhadap dhoror (bahaya) atau dzolim itu dilarang, seperti sewenang-wenang menimbun makanan pokok, dan sewenang-wenangnya salah satu rakyat dalam urusan yang merupakan hak khusus imam, seperti  jihad (berperang) dan sewenang-wenang menegakkan hukuman (had) dengan tanpa izinnya imam.
الموسوعة الفقهية 17/240-242
الشرط السادس: الإذن من الإمام:16 – اشترط فريق من العلماء فى المحتسب أن يكون مأذونا من جهة الإمام أو الوالي،وقالوا: ليس للآحاد من الرعية الحسبة والجمهور على خلافه الا فيما كان محتاجا فيه الى الاستعانة وجمع الاعوان وما كان خاصا بالائمة او نوابهم كاقامة الحدود وحفظ البيضة وسد الثغور اما ما ليس كذلك فان لآحاد الناس القيام به لان الادلة وردت فى الامر والنهي والدع عاماة  – الى ان قال -  واما جمع الاعوان وشهر الاسلحة قد يجر الى قتنة عامة ففيه نظر وقد ذهب الى اشتراط الاذن فى هذه الحالة جماهر العلماء لانه يؤدي الى الفتن وهيجان الفساد وكذلك ما كان مختصا بالأئمة والولاة فلا يستقل بها الآحاد كالقصاص، فإنه لا يستوفى إلا بحضرة الإمام ،لأن الإنفراد باستيفائه محرك للفتن

Terjemah :
Syarat No. 6 : Dapat izin dari imam. Sebagian Ulama’ mensyaratkan untuk relawan harus mendapat izin  dari imam atau dari penguasa (wali). Para Ulama berkata: Bagi individu rakyat tidak boleh menjadi relawan ) eksekutor hukuman ). Kebanyakan ulama’ tidak sependapat dengan syarat diatas kecuali dalam urusan yang memerlukan bantuan dan mengumpulkan banyak pembantu dan urusan yang khusus bagi imam atau penggantinya seperti menegakkan hukuman, menjaga keutuhan/persatuan   memperkuat benteng pertahanan dan mengirikan pasukan. Adapun hal-hal yang tidak seperti diatas bagi individu-individu manusia boleh melakukannya karena dalil-dalil tentang perintah, larangan dan pencegahan berlaku umum -sampai perkataan mushannif- adapun mengumpulkan pembantu-pembantu dan menghunus pedang itu bisa jadi menimbulkan fitnah yang merata, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Kebanyakan para ulama’ dalam hal yang seperti ini berpendapat harus mendapat izin dari imam karna bisa menimbulkan fitnah dan gejolaknya kerusakan. Dan demikian pula sesuatu yang khusus bagi imam dan penguasa, maka perorangan tidak boleh melakukan sendiri, seperti qishos (hukuman balasan sepadan) . Sesungguhnya seseorang tidak boleh melaksanakan (hukuman) kecuali adanya persetujuan dari imam, karena kesendirian dalam malaksanakan hukuman, akan dapat menimbulkan fitnah.
)5(. Sesuaikah dengan prinsip ahkam sulthaniyah bila secara diam-diam sekelompok umat Islam di Indonesia membaiat dan mengesahkan amir/pemimpin Islam guna menjadi landasan legitimasi ibadah atau pengamalan agama kelompok tersebut ?
Jawaban:
Membaiat dan mengesahkan amir/pemimpin Islam dengan tidak mengakui terhadap keabsahan kepemimpinan yang sudah ada tidak sesuai dengan prinsip hukum bernegara menurut Islam.

المراجع:
كشاف القناع للبهوتى الحنبلى الجزء السادس ص:205
الرَّابِعُ قَوْمٌ مِنْ أهْلِ الحَقِّ  بَايَنُوا الإمَامَ وَرَامَوْا خَلْعَهُ أي عَزْلَهُ أوْ مُخَالَفتَهُ بِتَأوِيْلٍ سَائِغٍ بِصَوَابٍ أوْ خَطَأٍ وَلهُمْ مَنْعَةٌ وَشَوْكَةٌ بِحَيثُ يَحْتاجُ فِي كَفِّهِمْ إلَى جَمْعِ جَيْشٍ وَهُم البُغَاةُ المَقصُودُونَ بِالتَّرْجَمَةِ فَمَن خَرجَ عَلَى إمَامٍ عَدْلٍ بِأحَدِ هَذهِ الوُجُوهِ الأرْبَعةِ بَاغِيًا وَجَبَ قِتالُهُ لِمَا تَقَدَّمَ أوَّلَ البَابِ
Terjemah :
Yang ke-empat: suatu kaum dari ahli haq (kebenaran) melawan terhadap imam dan menuduh bahwa ia telah terpecat/menentangnya dengan ta’wil yang benar/salah, dan mereka itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, sekira imam butuh terhadap pasukan untuk mencegah mereka , maka kaum itu dikatakan AL Bughoh (penentang Imam) sebagaimana yang dikehendaki dalam terjemah/judul barang siapa memberontak terhadap Imam yang ‘adil dengan sebab satu diantara empat macam dengan jelas-jelas membangkang maka orang tersebut wajib diperangi karna adanya keterangan yang sudah dijelaskan diawal bab.
التشريع الجنانى الإسلامى لعبد القادر عودة الجزء الثانى ص:675
يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه أو الإمتناع عما وجب على الخارجين من حقوق ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله اى مقررة لمصلحة الجماعة او للأشخاص اى مقررة لمصلحة الأفراد فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم وكل حق للحماعة على الأفراد وكل حق للفرد على الفرد فمن امتنع عن أداء الزكات فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحكم الله كحد الزنا أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا ولكم من المتفق عليه  أن الإمتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية.
Terjemah :
Disyaratkan wujudnya kejahatan makar adalah membangkang terhadap Imam. Pembangkangan dimaksud yaitu menentang imam dan melakukan yang mengarah kepada pemecatan imam atau menolak hak-hak yang wajib atas para pembangkang. Dan sama hak-hak ini bagi Allah ya’ni yang ditetapkan demi kemaslahatan orang banyak atau perorangan maksudnya ditetapkan demi kemaslahatan perorangan. Termasuk didalam hak-hak ini setiap hak yang diwajibkan syari’at bagi hakim atas orang yang dihukumi, setiap hak bagi golongan atas perorangan dan setiap hak bagi perorangan atas perorangan. Jadi barang siapa mencegah membayar zakat maka berarti dia mencegah hak yang wajib atas mereka dan barang siapa
mencegah menegakkan hukum yang behubungan dengan hukum Allah seperti hukuman zina atau yang berhubungan dengan hak perorangan seperti Qishos maka ia mencegah haq yang wajib atas dia.
Dan barang siapa menolak ta’at kepada imam  maka berarti ia menolak hak yang wajib atas dia  dan seterusnya. Bagi kalian dari hal yang disepakati ulama’bahwa sesungguhnya menolak taat didalam maksiat bukanlah pembangkangan akan tetapi suatu kewajiban atas setiap orang Islam, karena taat itu tidak wajib kecuali dalam kebaikan dan  taat  pada kemaksiatan tidak diperbolehkan.

البيان في فقه الامام الشافعي جز 12 ص 9 ط: دار الكتب العلمية
قال القفال وسواء كان الامام عادلا او جائرا فان الخارج عليهم باغ اذالإمام لاينعزل بالجور وسواء كان الخارج عليه عادلا او جائرا فان خروجه على الامام جور
Terjemah :
Imam Qaffal berkata : baik imam itu adil atau menyeleweng, maka membangkang kepadanya adalah bughat, karena imam tidak bisa terpecat sebab menyeleweng baik pihak pembangkang itu adil atau menyeleweng. Sebab membangkang kepada imam adalah perbuatan makar.
)6(. Sebagai konsekuensi Islam kaffah haruskah dilakukan jihad guna menangkal praktek kemungkaran oleh WNI non-muslim, seperti lokalisasi PSK, penjualan/ konsumsi minuman keras, budidaya hewan babi, arena hiburan yang penuh ma’shiyat, dan lain sebagainya ?
Jawaban:
Sebagai konsekwensi Islam kaffah dalam rangka menangkal praktek kemunkaran wajib dilakukan jihad dalam pengertian  أمر معروف نهى منكر sesuai dengan tahapan-tahapannya, dan harus berupaya untuk tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar atau fitnah.
المراجع:
أحكام القرأن لإبن العربي ج : 1 ص : 382 ، مانصه :
(وَلْتكُنْ مِنْكُم أمَّةٌ) دَليلٌ عَلى اَنَّ الأمْرَ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَن المُنكَرِ فَرْضٌ
Terjemah :
Firman Allah (artinya) : “Hendaklah diantara kalian terdapat ummat, yang mengajak kebaikan”. Ayat ini sebagai dasar perintah berbuat baik dan mencegah melakukan kemungkaran.
التشريع الجنائ الاسلامى جز 2 ص :677 , ف : الشيخ عبد القادر عودة  , ط : مؤسسة الرسالة
ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى هو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان منشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام
Terjemah :
Sifat adil itu menjadi syarat untuk menjadi imam kecuali pendapat yang unggul, itu menurut empat Madzhab, dan menurut madzhab Syi’ah Zaidiyah. Haram keluar dari imam yang fasiq, lacut itu haram, walaupun adanya kelauar itu untuk perintah kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karena keluar dari imam bisa mendatangkan kebiasaan ingkar dari perkara tersebut. Dengan demikian terlarang mencegah kemungkaran. Karena yang disyaratkannya iru tidak akan mendatangkan keinkaran lain yang lebih darinya. Sampai menimbulkan fitnah, pertumpahan darah, meratanya kerusakan, kacaunya negara, menyesatkan masyarakat, merapuhkan keamanan dan merusak tatanan.

full time islam

بغية المسترشدين ، ص : 251، مانصه :
وَلَهُ دَرَجَتَانِ . التَعْرِيفُ ثُمَّ الوَعْظُ بِالكَلامِ اللَّطِيفِ ثُمَّ السَّبُّ وَالتَعْنِيفُ ثمَّ المَنْعُ بِالقَهْرِ ، وَالأوَّلانِ يَعُمَّانِ سَائِرَ المُسْلِمِينَ وَالأخِيرَانِ مَخْصُوصَانِ بِوُلاةِ الأمُورِ اهـ.
Terjemah :
Baginya dua tingkatan, diperingatkan, dinasehati dengan ucapan yang halus, dicaci maki dan kekerasan kemudian dicegah dengan paksa.
Sedangkan dua kewajiban yang pertama berlaku umum untuk semua orang Islam dan yang dua kewajiban yang akhir khusus bagi penguasa.

Sumber.

Waallahualam.

Saturday, December 4, 2010

Kebersihan Adalah Setengah Dari Iman

Kebersihan Adalah Setengah Dari Iman

img_2079

Dalam Syarah Muslimnya, Imam Nawawi mengemukakan bahwa di antara makna ‘kebersihan sebagian dari iman’, adalah :
1. Bahwa pahala dalam bersuci dapat berlipat pahalanya sampai setengahnya pahala keimanan.
2. Bahwa ‘keimanan’ akan menghapuskan dosa-dosa yang dilakukan seseorang sebelumnya, demikian juga dengan wudhu. Karena wudhu tidak sah dilaksanakan tanpa iman…
Hikmah yang dapat dipetik dari keharusan adanya proses ‘thaharah’ ini adalah bahwa seluruh ibadah yang dilakukan oleh setiap hamba Allah adalah bertujuan untuk ‘mensucikan’ pelakunya sendiri dari karat-karat dan noda kehidupan dunia. (QS. Al-Maidah: 6)

Hikmah lain adalah, bahwa sesungguhnya Allah swt. sendiri sangat mencintai orang-orang yang senantiasa bersuci (QS. Al-Baqarah: 222), “Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertaubat dan mencintai orang-orang yang senantiasa mensucikan diri.”

Karena dengan bersuci, dosa-dosa seseorang akan diampuni oleh Allah swt.. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: Dari Utsman bin Affan r.a. berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Barang siapa yang berwudhu kemudian ia menyempurnakan wudhu’nya, maka akan keluar dosa-dosa dari jasadnya, hingga keluar (dosa-dosanya tersebut) dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim)

Sumber

Waallahualam.

Friday, May 7, 2010

Asal Bagi Segala Perkara Adalah Harus Sehingga Terdapat Dalil Yang Menunjukkan Kepada Tidak Harus.(As-Syafie)

Wudhuk Gambar Hiasan
(Siri 1) Memelihara Diri Dari Perkara Yang Samar.
Syarah Hadith Pilihan:
عَنْ النُّعْمَانِ بْنِ بَشِيرٍ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّ الْحَلَالَ بَيِّنٌ وَإِنَّ الْحَرَامَ بَيِّنٌ وَبَيْنَهُمَا مُشْتَبِهَاتٌ لَا يَعْلَمُهُنَّ كَثِيرٌ مِنْ النَّاسِ فَمَنْ اتَّقَى الشُّبُهَاتِ اسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضِهِ وَمَنْ وَقَعَ فِي الشُّبُهَاتِ وَقَعَ فِي الْحَرَامِ كَالرَّاعِي يَرْعَى حَوْلَ الْحِمَى يُوشِكُ أَنْ يَرْتَعَ فِيهِ أَلَا وَإِنَّ لِكُلِّ مَلِكٍ حِمًى أَلَا وَإِنَّ حِمَى اللَّهِ مَحَارِمُهُ أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ
Daripada an-Nu’man bin Basyir r.a. katanya, saya mendengar Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya halal itu jelas dan sesungguhnya haram itu jelas dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar yang tidak diketahui oleh kebanyakan manusia. Sesiapa yang mengelakkan dirinya daripada perkara yang samar bermakna dia telah membersihkan agama dan kehormatannya. Sesiapa yang terjerumus ke dalam perkara-perkara yang samar maka dia terjerumus di dalam perkara yang haram seperti seorang pengembala yang merumput di sekitar kawasan larangan pasti dia akan merumput di dalamnya. Ketahuilah sesungguhnya setiap raja mempunyai kawasan larangan. Ketahuilah sesungguhnya kawasan larangan Allah adalah perkara-perkara yang diharamkan olehnya. Ketahuilah sesungguhnya pada tubuh ada seketul darah, bila ia baik maka baiklah seluruh tubuh dan bila ia rosak maka rosaklah seluruh tubuh. Ketahuilah ia adalah hati.[1]
Kedudukan hadith:
Ulama mengemukakan pelbagai pendapat berkenaan kedudukan hadith ini. Antaranya ialah Ibnu Daqiq al-’Iid berkata: “Hadith ini merupakan usul yang penting dalam bab wara’ dan meninggalkan perkara syubahat atau sama di dalam agama.[2]
Imam as-Syaukani berkata: ulama menganggap hadith ini adalah satu hadith yang penting dalam agama. Ia merupakan salah satu dari empat hadith yang merupakan rujukan agama. Abu al-Hasan al-Ma’afiri menghimpunkan keempat-empat hadith tersebut dalam satu rangkap syair:
عُمْدَةُ الدِّينِ عِنْدَنَا كَلِمَاتٌ * أَرْبَعٌ مِنْ كَلَامِ خَيْرِ الْبَرِيَّهْ
اِتَّقِ الشُّبُهَاتِ وَازْهَدْ وَدَعْ مَا * لَيْسَ يَعْنِيكَ وَاعْمَلْنَ بِنِيَّهْ
Tiang agama di sisi kita adalah empat kalimat daripada ungkapan sebaik-baik rasul. Elakkan diri dari perkara syubhat (hadith ini), hadith perintah supaya zuhud, hadith perintah supaya meninggalkan apa yang tidak mendatangkan manfaat kepadamu dan hadith tentang niat.[3]
Imam Ahmad berkata: usul Islam berkisar sekitar tiga hadith iaitu hadith tentang niat, hadith melakukan perkara baru dalam agama dan hadith mengelak diri dari perkara syubhat.[4]
Antara sebab yang menjadikan hadith ini mulia di sisi ulama ialah kerana di dalamnya Rasulullah s.a.w. mengingatkan tentang kepentingan menjaga serta memilih yang baik-baik daripada makanan, minuman, pakaian, amalan dan lain-lain. Semuanya mestilah halal lalu baginda memberikan petunjuk untuk mengenali perkara halal dan salah satunya ialah dengan meninggalkan perkara yang samar kerana ia adalah salah satu asas untuk memelihara agama dan kehormatan. Di samping itu, baginda mengingatkan kita supaya tidak terjerumus ke dalam lembah syubhat dengan menjelaskan dalam bentuk perumpamaan dengan kawasan larangan. Nabi s.a.w. mengakhiri peringatan tersebut dengan mengingatkan bahawa asas kepada semua yang tersebut itu adalah penjagaan hati.
Makna umum hadith.
Allah ta’ala menurunkan kepada nabinya al-Quran dan menerangkan di dalamnya segala yang diperlukan oleh manusia dengan jelas seperti perkara yang halal, haram dan perkara yang mendorong kepada kedua-duanya. Mana-mana yang tidak dijelaskan oleh al-Quran, Nabi s.a.w. pasti akan menjelaskannya. Baginda bersabda:
عن ابن مسعود : أن رسول الله صلى الله عليه و سلم قال : ليس من عمل يقرب إلى الجنة إلا قد أمرتكم به و لا عمل يقرب إلى النار إلا قد نهيتكم عنه
Daripada Ibnu Mas’ud r.a. bahawa Rasulullah s.a.w. bersabda: “Tidak ada satupun amalan yang boleh menghampirkan kepada syurga kecuali aku telah perintahkan kamu supaya melakukannya dan tidak ada satupun amalan yang boleh menghampirkan kepada neraka kecuali aku telah melarang kamu daripadanya”.[5]
Terutama sekali masalah yang berkaitan dengan usul agama iaitu berkaitan dengan akidah. Namun begitu apa yang terdapat di dalam al-Quran dan as-Sunnah sebahagiannya lebih jelas dari sebahagian yang lain. Mana-mana hukum yang dinyatakan di dalam kedua-dua sumber tersebut dengan jelas sehingga tidak timbul sebarang keraguan padanya dan hukum tersebut pula umum di kalangan masyarakat Islam terutamanya bila seseorang berada di suatu tempat yang boleh dizohirkan keislaman dan amalan Islam maka seseorang yang tidak mengetahui tentang hukum tersebut atau mengetahui tetapi melanggarnya dengan melakukan suatu yang dilarang dan meninggalkan suatu yang diperintahkan sebagai wajib tidak dimaafkan disebabkan kecuaiannya untuk memperolehi ilmu tentangnya.
Selain dari dua hukum yang jelas itu terdapat hukum yang ketiga yang diambil daripada keterangan yang tidak sampai peringkat tersebut dan ulama berselisih pendapat tentangnya sama ada halal atau haram. Bagi seseorang muslim yang ingin menjaga dirinya dari terjerumus ke dalam perkara yang haram, ingin menjaga agama dan kehormatannya dan ingin supaya hidupnya berada di atas landasan yang baik sepatutnya mengelakkan diri daripadanya. Namun begitu semuanya hanya boleh dilakukan dengan hati yang ikhlas dan suci kerana ia adalah asas di dalam memperbaiki segala perbuatan. Oleh itu latihan untuk membentuk hati mestilah sentiasa dilakukan.
Huraian hadith.
Segala perkara berkaitan agama terbahagi kepada tiga bahagian.
Pertama: halal yang jelas dan tiada sebarang kekeliruan padanya. Tidak berdosa melakukannya. Begitu juga tidak berdosa meninggalkannya jika tiada sebarang dalil yang menunjukkan bahawa ia adalah wajib. Di antara contohnya ialah ayat al-Quran atau hadith yang menggunakan lafaz dihalalkan atau Allah menghalalkan:
أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَى نِسَآئِكُمْ
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan Puasa bercampur dengan isteri-isteri kamu[6]
أُحِلَّ لَكُمْ صَيْدُ الْبَحْرِ وَطَعَامُهُ مَتَاعًا لَّكُمْ وَلِلسَّيَّارَةِ
Dihalalkan bagi kamu binatang buruan laut dan makanan yang didapati dari laut, sebagai bekalan bagi kamu (untuk dinikmati kelazatannya) dan juga bagi orang-orang yang dalam pelayaran[7]
وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ
Padahal Allah telah menghalalkan jual beli.[8]
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص) أُحِلَّتْ لَنَا مَيْتَتَانِ وَدَمَانِ
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Dihalalkan kepada kita dua bangkai dan dua darah”.[9]
Tetapi jikalau al-Quran atau hadith menggunakan lafaz amar iaitu perintah atau lafaz difardhukan, diwajibkan dan seumpamanya atau lafaz-lafaz yang lain yang memberikan makna wajib maka hukum halal itu memberikan makna wajib selagi tidak terdapat mana-mana bukti yang menunjukkan bahawa perintah di situ bukan dengan makna wajib tetapi makna sunat atau harus sahaja. Antara contoh dari al-Quran dan hadith ialah:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُلُواْ مِن طَيِّبَاتِ مَا رَزَقْنَاكُمْ وَاشْكُرُواْ لِلّهِ إِن كُنتُمْ إِيَّاهُ تَعْبُدُونَ
Hai orang-orang yang beriman, makanlah di antara rezeki yang baik-baik yang Kami berikan kepadamu dan bersyukurlah kepada Allah, jika benar-benar hanya kepada-Nya kamu menyembah.[10]
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُواْ كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِصَاصُ فِي الْقَتْلَى
Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh[11]
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص) إِنَّ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ قَدْ فَرَضَ عَلَيْكُمْ الْحَجَّ
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Sesungguhnya Allah ‘azza wa jalla telah memfardhukan ke atas kamu haji”.[12]
قَالَ رَسُولُ اللَّهِ (ص) فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ
Rasulullah s.a.w. bersabda: “Hendaklah kamu berpegang kepada sunnahku dan sunnah khulafa’ ar-rasyidin”.[13]
Di antara perkara halal di sisi Imam as-Syafi’ie ialah sesuatu yang tidak terdapat dalil yang menunjukkan ia adalah haram. Ini tidak termasuk perkara yang berkait dengan perempuan dan ibadat khusus. Kerana yang berkait dengan kedua-duanya asalnya adalah haram. Imam as-Syafi’ie berdalilkan kepada ayat al-Quran dan hadith Nabi s.a.w. iaitu:
قُلْ لَا أَجِدُ فِي مَا أُوحِيَ إِلَيَّ مُحَرَّمًا عَلَى طَاعِمٍ يَطْعَمُهُ إِلَّا أَنْ يَكُونَ مَيْتَةً أَوْ دَمًا مَسْفُوحًا أَوْ لَحْمَ خِنْزِيرٍ فَإِنَّهُ رِجْسٌ أَوْ فِسْقًا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ فَمَنِ اضْطُرَّ غَيْرَ بَاغٍ وَلَا عَادٍ فَإِنَّ رَبَّكَ غَفُورٌ رَحِيمٌ
Katakanlah (wahai Muhammad): Aku tidak dapati dalam apa yang telah diwahyukan kepadaku, sesuatu yang diharamkan bagi orang yang hendak memakannya melainkan kalau benda itu bangkai atau darah yang mengalir atau daging babi kerana sesungguhnya ia adalah kotor atau sesuatu yang dilakukan secara fasik, iaitu binatang yang disembelih atas nama yang lain dari Allah. Kemudian sesiapa yang terpaksa (memakannya kerana darurat) sedang dia tidak mengingininya dan tidak melampaui batas, maka sesungguhnya Tuhan mu Maha Pengampun, lagi Maha Mengasihani.[14]
عن أبي ثعلبة الخُشَنِيِّ جُرثومِ بنِ ناشر رضي الله عنه ، عن رسول الله  صلى الله عليه وسلم  قال : (( إنَّ اللهَ تَعَالَى فَرَضَ فَرَائِضَ فَلاَ تُضَيِّعُوهَا ، وَحَدَّ حُدُوداً فَلاَ تَعْتَدُوهَا ، وَحَرَّمَ أَشْيَاءَ فَلاَ تَنْتَهِكُوهَا ، وَسَكَتَ عَنْ أشْيَاءَ رَحْمَةً لَكُمْ غَيْرَ نِسْيَانٍ فَلاَ تَبْحَثُوا عَنْهَا
Daripada Abi Tha’labah al-Khusyani iaitu Jurthum bin Nasyir r.a. daripada Rasulullah s.a.w. sabdanya: “Sesungguhnya Allah ta’ala telah memfardhukan beberapa kefardhuan maka janganlah kamu mensia-siakannya, menetapkan batas-batas maka janganlah kamu melampauinya, mengharamkan beberapa perkara maka janganlah kamu menghampirinya dan diam (tidak menyebutkan hukum) beberapa perkara sebagai satu rahmat kepada kamu serta bukan kerana lupa maka janganlah kamu mencari-carinya”.[15]
Berdasarkan kepada ayat al-Quran dan hadith di atas Imam as-Syafi’ie membuat kesimpulan dengan mengeluarkan qaedah fiqh yang berbunyi:
الْأَصْلُ فِي الْأَشْيَاءِ الْإِبَاحَةُ حَتَّى يَدُلَّ الدَّلِيلُ عَلَى عَدَمِ الْإِبَاحَةِ
Asal bagi segala perkara adalah harus sehingga terdapat dalil yang menunjukkan kepada tidak harus.[16]
Disediakan oleh Ahmad Nasim bin Abdul Rauf untuk www.darulkautsar.net
Rujukan:-[1] Riwayat al-Bukhari, Muslim,[2] Ibnu Daqiq al-‘Iid, Ihkam al-Ahkam Syarh Umdah al-Ahkam jil.1 hal. 471,[3] As-Syaukani Nail al-Authar jil. 5 hal. 269, [4] Ibnu Rajab al-Hambali Jami’ al-Uloom wa al-Hikam jil. 1 hal 9, [5] Al-Hakim al-Mustadrak ‘Ala as-Shahihain,[6] Al-Baqarah 187,[7] Al-Maaidah 96 ,[8] Al-Baqarah 275[9] Musnad Ahmad,[10] Al-Baqarah 172,[11] Al-Baqarah 178,[12] Sunan an-Nasaie, Musnad Ahmad,[13] Sunan Ibnu Majah, Musnad Ahmad,[14] Al-An’am 145,[15] Sunan ad-Dar Quthni, Sunan al-Baihaqi, [16] Al-Fawaid al-Janiyyah fi al-Qawaid al-Fiqhiyyah hal. 209,

Thursday, November 26, 2009

Pesanan Sayidina Umar A-Khattab

Khalifah Ar-Rashidin Yang kedua, Sayidina Umar A-Khattab berpesan:
  • Siapa yang menjaga percakapannya dianugerahkan kepadanya hikmah.
  • Siapa yang menjaga penglihatannya dianugerahkan kepadanya hati yang khusyuk.
  • Siapa yang menjaga makanannya dianugerahkan kepadanya kelazatan dalam beribadah.
  • Siapa yang bersabar di atas ujian, Allah sempurnakan sabarnya lalu memasukkannya ke dalam Syurga mana yang dia suka.
  • Siapa yang menjaga daripada ketawa dianugerahkan kepadanya kehebatan.
  • Siapa yang menjaga daripada bergurau dianugerahkan kepadanya keelokan atau kemuliaan.
  • Siapa yang meninggalkan cinta dunia dianugerahkan kepadanya dapat melihat kesalahan sendiri.
  • Siapa yang meninggalkan kesibukan mencari kesalahan pada perbuatan Allah, dianugerahkan kepadanya pelepasan daripada nifak.

Thursday, August 27, 2009

Bid’ah

Apa yang kita faham tentang bid’ah? Ada kah bid’ah hassanah? Apa itu bid’ah dholalah atau saiyi'ah/keji? Bid’ah adalah bid’ah.
bid'ah
Gambar Hiasan
Cuba Anda Perhatikan Apa yang Telah Berlaku dalam gambar diatas.
Berikut ini adalah fatwa syeikh Yusof al-Qaradhawi berkaitan dengan bid'ah dan komentarnya mengenai pembahagian bid'ah. Juga penjelasan di sekitar maksud sebahagian ulama membahagikan bid'ah kepada beberapa macam.
Soalan: Apakah dia pembahagian bid'ah? Adakah benar di sana terdapat bid'ah hasanah (baik) dan bid'ah saiyi'ah (keji)?
Jawab: Berlaku pertentangan pendapat antara kalangan ulama tentang pembahagian bid'ah. Sebahagian mereka membahagikannya kepada bid'ah hasanah dan bid'ah saiyi'ah. Sebahagiannya pula menjadikan bid'ah kepada lima bahagian seperti hukum syar'i. Semua pembahagian ini tidak ada asalnya. Kerana hadis s.a.w. menyatakan: "Setiap bid'ah itu dhalalah." Ia adalah sesuatu yang diada-adakan yang tidak berada di bawah mana-mana asal atau sumber dari sumber-sumber tasyri' (pensyariatan) atau ia bukanlah perkara yang ada dalilnya dari mana-mana dalil hukum.
Dr Syeikh Yusof al-Qaradhawi menyatakan:
Di sana sebahagian ulama membahagikan bid'ah kepada: Hasanah dan Saiyi'ah. Manakala sebahagian dari mereka membahagikannya kepada lima bahagian, menurut pembahagian hukum-hakam syarak: Bid'ah wajib, sunat, makruh, haram dan harus/mubah.
Al-Imam al-Syathibi telah membahaskan masalah ini secara terperinci, dan ditengah-tengah beliau membahaskannya itu beliau berpendirian: Bahawa pembahagian ini adalah perkara yang direka-reka yang tidak ditunjukkan oleh mana-mana dalil syari'i pun, malah pembahagian itu sendiri saling bertolak-tolakan. Kerana hakikat bid'ah itu ialah sesuatu yang tidak ditunjuki oleh mana-mana dalil syarak, tidak juga oleh mana-mana nash syarak dan tidak dari qaedah-qaedahnya. Kerana jika di sana terdapat suatu dalil syarak yang menunjukkan atas wajibnya sesuatu, sunat atau harus, mengapa pula perkara berkenaan dikatakan bid'ah (hasanah). Ia sebenarnya (bukanlah bid'ah hasanah) tetapi perkara berkenaan telahpun masuk di bawah keumuman amal yang diperintahkan atau perkara yang dibolehkan (membuat pilihan).
Akhirnya natijahnya adalah satu, kerana mereka mengatakan bahawa penulisan al-Quran, menghimpunkannya dalam satu mushaf, menyusun ilmu Nahu, Usul Feqh dan ilmu-ilmu Islam lain adalah sebagai bid'ah wajib dan sebagai fardu kifayah.
Manakala sebahagian yang lain tidak bersetuju perkara-perkara di atas (penulisan al-Quran, menghimpunkannya dalam satu mushaf, menyusun ilmu Nahu...) itu dinamakan sebagai bid'ah hasanah. Kata mereka: "Pembahagian ini adalah pembahagian untuk bid'ah dari sudut bahasa sahaja. Yang kami kehendaki dengan bid'ah adalah bid'ah dari sudut syarak. Tentang perkara-perkara di atas, kami mengeluarkannya dari senarai bid'ah. Adalah tidak baik jika ia disebut sebagai sesuatu yang bid'ah. Yang utama adalah kita berpegang kepada Hadis yang mulia; kerana hadis datang dengan lafaz berikut dengan terang dan nyata: "Maka sesungguhnya setiap bid'ah itu dholalah (menyesatkan)."
Dengan keumuman lafaz hadis di atas, maka apabila dikatakan: "Setiap bid'ah itu dholalah" maka tidak perlulah kita katakan lagi: "bid'ah itu ada yang baik, ada yang keji, ada yang wajib, ada yang sunat dan seterusnya...." Pembahagian sebegini adalah tidak perlu.
Apa yang benar ialah, bahawa kita katakan apa yang telah disabdakan oleh s.a.w. di dalam hadisnya: "Maka sesungguhnya setiap bid'ah adalah dholalah." Yang dimaksudkan adalah bid'ah sebagaimana yang telah ditahqiq oleh al-Imam al-Syathibi: "Bid'ah ialah jalan di dalam agama yang direka-reka/diada-adakan." Iaitu yang tidak ada asal-usulnya dari syarak, tidak juga dari al-Quran, al-Sunnah, ijmak, qiyas, mashlahah mursalah dan tiada di kalangan fuqaha' yang menyatakan dalil mengenainya.
Sumber: terjemahan:zain y.s:Islamonline.net

Selamat Menyambut Ramadan Al-Mubarak. Semoga mendapat keberkatan di Lailatul Qadar kali ini. Lama tak post entri kerana kesibukan yang dibuat-buat dan sebab-sebab yang tidak dapat dielakkan.
Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Saturday, August 1, 2009

Jihad

Apa pandangan kamu tentang video ini?
Seharusnya membaca juga E-Book dari Harun Yahya- Klik Sini*
Memahami Erti Jihad.
Jihad  ialah berjuang dengan bersungguh-sungguh. Mereka yang berjihad digelar Mujahid. Mujahidin untuk lelaki dan mujahidah untuk wanita.
Jihad dilaksanakan untuk menjalankan misi utama manusia yaitu menegakkan Din (agama) Allah atau menjaga Din tetap tegak, dengan cara-cara sesuai dengan garis perjuangan para Rasul dan al-Quran. Jihad yang dilaksanakan Rasul adalah berdakwah agar manusia meninggalkan kemusyrikan dan kembali kepada aturan Allah, menyucikan hati, memberikan pengajaran kepada umat dan mendidik manusia agar sesuai dengan tujuan penciptaan mereka yaitu menjadi khalifah Allah di bumi.
Pelaksanaan jihad dapat dirumuskan sebagai berikut:
Pada konteks diri peribadi - berusaha membersihkan fikiran dari pengaruh-pengaruh ajaran selain Allah dengan perjuangan spiritual di dalam diri, mengerjakan perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya.
Komuniti - Berusaha agar Din pada masyarakat sekitar mahupun keluarga tetap tegak dengan dakwah dan membersihkan mereka dari kemusyrikan.
Kedaulatan - Berusaha menjaga kedaulatan dari serangan luar, mahupun pengkhianatan dari dalam agar ketertiban dan ketenangan beribadah pada rakyat di negara tersebut tetap terjaga termasuk di dalamnya pelaksanaan Amar Ma'ruf Nahi Munkar. Jihad ini hanya berlaku pada negara yang menggunakan Din Islam secara menyeluruh (Kaffah).
Istilah jihad sering disalahfahami oleh yang tidak mengenal prinsip-prinsip Din Islam sebagai 'perang suci' (holy war); istilah untuk perang adalah Qital, bukan Jihad.
Jihad dalam bentuk perang dilaksanakan jika terjadi fitnah yang membahayakan kewujudan umat (contohnya serangan dari luar). Jihad tidak boleh dilaksanakan kepada orang-orang yang tunduk kepada aturan Allah atau mengadakan perjanjian damai ataupun ketaatan.
Keganasan tidak boleh dikategorikan sebagai jihad; Jihad dalam bentuk perang harus jelas pihak mana yang terlibat dalam peperangan, seperti halnya perang yang dilakukan Nabi Muhammad s.a.w. yang mewakili Madinah melawan Makkah dan sekutu-sekutunya. Alasan perang tersebut terutama adalah kezaliman kaum Quraisy yang melanggar hak hidup kaum Muslimin yang berada di Makkah (termasuk merampas harta kekayaan kaum Muslimin serta pengusiran).
Mengapa kamu tidak mahu berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita mahupun anak-anak yang semuanya berdoa : "Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Mekah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau !".(QS 4:75)
Perang yang mendakwa menegakkan Islam namun tidak mengikuti Sunnah Rasul tidak boleh disebut Jihad. Sunnah Rasul untuk penegakkan Islam bermula dari dakwah tanpa kekerasan, hijrah ke wilayah yang aman dan menerima dakwah Rasul, kemudian merealisasikan suatu masyarakat Islam (Ummah) yang bertujuan menegakkan Kekuasaan Allah di muka bumi.
Mereka yang diserang berhak berjihad untuk mempertahankan diri dengan apa cara sekalipun.
Source: wikipedia
Kuffar Amerika dan sekutunya telah menyerang dan membunuh umat islam di afghanistan, iraq, palestin dan negara umat islam lain. Amerika juga ialah pusat penyebaran kemungkaran dan kefasadan. Osama bin Laden telah melancarkan perang (al-qital fi sabilillâh bisyurâthihi) keatas amerika dan sekutunya. Sebelum ini beliau telah berjihad di afghanistan melawan penjajahan kuffar Soviet Union di afghanistan. Salahkah beliau jika berijtihad begitu?
laailahailallah1
*Tiada apa yang dapat menandangi dengan kalimah Laailahaillah.
Demontrasi adalah  jihad, tunjuk perasan untuk menyatakan kebenaran dan membenci kezaliman. Demontrasi mansuhkan I.S.A umpamanya yang menahan dan memenjara orang yang tidak bersalah tanpa bicara, yang bersalah bebas menyebarkan fitnah dan kezaliman. Semua orang berhak mempertahankan diri dan menyatakan kebenaran.
Demontrasi mansuhkan dasar PPSMI, disebabkan seorang pemimpin yang jahil sejarah dan moral membuat keputusan, Bahasa jadi pertaruhan. Mana tulisan jawi, dah dilupa, bahasa baku dah tiada juga. Logikkah anda, memakan racun yang disuap oleh pemimpin yang jahil itu. Sudah tentu tidak, demotrasi adalah jihad fisabilillah untuk menyatakan kebenaran dan mempertahankan diri dan survival generasi yang mendatang. Agar anda dan generasi akan datang tidak disuap racun berjadual itu.
PROTESTS
Sumber: Gambar
Dalam diri sendiri juga ada perasan untuk pertahankan diri dan menyatakan kebenaran dan membenci kezaliman (Amar Ma'ruf Nahi Munkar). Ia juga disebut jihad, jihad pada diri atau disebut jihad nafsu. Anda tentu tidak suka, jika barang,harta benda  milik anda diambil secara yang salah. Hendak dapatkan harta penuh dengan perit jerih.Kita akan menasihati dan hukum dengan kata lain marah, pukul dan sebagainya untuk nyatakan kebencian pada perbuatan itu. Begitu juga demontrasi.
Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Sunday, July 5, 2009

Thaharah

Ulama fiqh sendiri menganggap thaharah merupakan satu syarat pokok sahnya ibadah. Tidak ada satu agama pun yang betul-betul memperhatikan dan memperincikan thaharah(bersuci) seperti Islam.

Thaharah menurut bahasa berarti bersih. Menurut istilah fuqaha (ahli fiqh) berarti membersihkan hadas atau menghilangkan najis, iaitu najis jasmani seperti darah, air kencing, dan tinja. Hadas secara maknawi berlaku bagi manusia. Mereka yang terkena hadas ini terlarang untuk melakukan solat, dan untuk menyucikannya mereka wajib wudhu, mandi, dan tayammum.

Thaharah dari hadas maknawi itu tidak akan sempurna kecuali dengan niat taqarrub dan taat kepada Allah SWT. Adapun Thaharah dari najis pada tangan, pakaian, atau bejana, maka kesempurnaannya bukanlah dengan niat. Bahkan jika secarik kain terkena najis lalu ditiup angin dan jatuh ke dalam air yang banyak, maka kain itu dengan sendirinya menjadi suci.

Thaharah dari hadas dan najis itu menggunakan air, sebagaimana firman Allah SWT: "... dan Allah menurunkan kepadamu hujan dari langit untuk menyucikan kamu dengan hujan itu .... " (Q.S. Al-Anfal : 11)

"... dan Kami turunkan dari langit air yang amat bersih ...." (Q.S. Al-Furqan: 48)

Thaharah (pada ayat di atas) berarti suci pada dirinya sendiri dan menyucikan yang lain. Para ulama membagi air menjadi dua macam, berdasarkan banyak, sedikitnya atau berdasarkan keadaannya, iaitu:

a. Air Muthlaq dan Air Musta''mal                       b. Air Mudhaf.

Air Muthlaq

Air muthlaq ialah air yang menurut sifat asalnya, seperti air yang turun dari langit atau keluar dari bumi: Air hujan, air laut, air sungai, air telaga, dan setiap air yang keluar dari bumi, salju atau air beku yang mencair.

Begitu juga air yang masih tetap namanya walaupun berubah kerana sesuatu yang sulit dihindari, seperti tanah, debu, atau sebab yang lain seperti kejatuhan daun, kayu atau kerana mengalir di tempat yang asin atau mengandung belerang, dan sebagainya.

Menurut ittifaq (kesepakatan) ulama, air muthlaq itu suci dan menyucikan. Adapun yang diriwayatkan oleh Abdullah bin Umar, bahwa tayammum lebih disukai daripada air laut, riwayat itu bertentangan dengan hadis Nabi Shallallahu ''Alaihi wa ''Alihi wa Sallam yang berbunyi: "Siapa yang tidak dibersihkan oleh air laut, maka Allah tidak membersihkannya.

Air Musta''mal

Apabila kita membersihkan najis dari badan, pakaian, atau bejana dengan air muthlaq, lalu berpisahlah air bekas basuhan itu dengan sendirinya atau dengan jalan diperas, maka air yang terpisah itu disebut air musta''mal.

Air semacam itu hukumnya najis, karena telah bersentuhan dengan benda najis, meskipun itu tidak mengalami perubahan apapun. Air itu tidak dapat digunakan lagi untuk membersihkan hadas atau najis. Para ulama mazhab berkata: Apabila air berpisah dari tempat yang dibasuh bersama najis, maka air itu hukumnya menjadi najis. Kalau air itu berpisah tidak bersama najis, maka hukumnya bergantung pada tempat yang dibasuh.

Jika tempat itu bersih, maka air itu pun suci. Sebaliknya, jika tempat itu kotor, maka air itu pun kotor. Hal itu tidak dapat dipastikan melainkan kita memperhatikan lebih dahulu tempat aliran air yang bersangkutan. Kalau hal itu tidak mungkin dilakukan, maka dianggap bahwa tempat yang dilalui air atau dibasuh itu bersih, sedangkan air yang terpisah dari tempat itu hukumnya najis.

Air musta''mal telah digunakan untuk berwudhu atau mandi sunnah, seperti mandi taub''at, hukumnya suci dan menyucikan untuk hadas dan najis; artinya air itu dapat digunakan untuk mandi wajib, berwudhu, atau menghilangkan najis. Adapun air musta''mal yang telah digunakan untuk mandi wajib, seperti mandi junub, dan mandi setelah haid, maka ulama Imamiyah sepakat bahwa air itu dapat menyucikan najis tetapi berbeza pendapat tentang dapat tidaknya air itu digunakan untuk menghilangkan hadas dan berwudhu, sebagian mereka membolehkan dan sebagian lain melarang.

Catatan: Apabila orang yang berjunub menyelam ke dalam air yang sedikit, setelah ia menyucikan tempat yang terkena najis, dengan niat membersihkan hadas, maka menurut Imam Hambali air itu menjadi musta''mal dan tidak menghilangkan janabah, malah orang itu wajib mandi lagi.

Sedangkan Syafi''i, Imamiyah dan Hanafi berpendapat bahwa air itu menjadi musta''mal tetapi menyucikan janabah orang lersebut, sehingga ia tidak wajib mandi lagi.

Air Mudhaf

Air Mudhaf ialah air perahan dari suatu benda seperti limau, tebu, anggur, atau air yang muthlaq pada asalnya, kemudian bercampur dengan benda-benda lain, misalnya air bunga. Air semacam itu suci, tetapi tidak dapat menyucikan najis dan kotoran. Pendapat ini me-rupakan kesepakatan semua mazhab kecuali Hanafi yang membolehkan bersuci dari najis dengan semua cairan, selain minyak, tetapi bukan sesuatu yang berubah karena dimasak. Pendapat ini sesuai dengan pendapat Asy-Syahid Murtadha dari Imamiyah.

Semua mazhab, kecuali Hanafi, juga sepakat tentang tidak bolehnya berwudhu dan mandi dengan air mudhaf, seperti yang disebutkan oleh Ibnu Rusyd di dalam kitab Bidayah Al-Mujtahid wa Nihayah Al-Muqtashid dan kitab Majma'' Al-Anhar.

Hanafi berkata : "Seseorang musafir harus (boleh) berwudhu'' dengan air perahan dari pohon kurma."

1Ibnu Qudamah: Al-Mughni, jilid I, hal 22 cetakan ketiga dan ibnu Abidin , I; hal. 140 cetakan Al-Maimaniyah. 2 Ibnu Rusyd, Bidayat Al-Mujtahid, hal. 32, cetakan 135 H. Dan kitab Majma Alr Anhar, hal 37, cetakan Istambul Ibnu Qudamah menyebutkan,3 bahwa mazhab Hanafi membolehkan berwudhu'' dengan air mudhaf.

Syaikh Shadiq dari Imamiyah berkata: "Sah berwudhu dan mandi junub dengan air mawar." Hanafi mengambil dalil atas pendapatnya bahwa air mudhaf boleh digunakan untuk berwudhu, dari ayat Al-Qur''an :

"Maka jika tidak ada air, hendaklah kamu tanyammum dengan debu yang bersih.." (Q.S. Al-Maidah :6)

Menurut Hanafi, makna ayat itu adalah: Jika tidak ada air muthlaq dan air mudhaf, maka bertayammumlah. Tetapi jika ada air mudhaf, maka tayammum tidak dibolehkan.

Mazhab lain berdalil dengan ayat ini juga untuk melarang pemakaian air mudhaf untuk berwudhu. Mereka berkata bahwa kata al-ma''u di dalam ayat itu maksudnya air muthlaq saja, tidak mencakup air mudhaf. Dengan demikian, maksud ayat di atas (Al-Maidah : 6) adalah: "Apabila tidak ada air muthlaq, maka bertayammumlah...."

Lihat juga: Siri Syarah Bukhari-Kitab Thoharah oleh Maulana Mohd Asri Yusof

Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Technorati Tags: ,

Salam.. Chat.


ShoutMix chat widget

Followers

As-Syahid Izzuddin Al-Qassam (1871 - 20 Nov 1935)

Nama sebenar beliau adalah Muhammad Izzuddin Abdul Qadir Mustafa Al-Qassam. Lahir di daerah Al-Ladziqiyyah, Syria Selatan. Masuk ke Al-Azhar sekitar tahun 1906 pada usia 14 tahun. Sempat berguru dengan Sheikh Muhammad Abduh dan berteman dengan Sheikh Rasyid Redho. Ketika penjajahan kuffar di Libya pada 1911, beliau turut memobilisasi senjata dan para mujahid untuk turun ke Libya. Setiap operasi jihad yang dipimpin oleh beliau di Palestin membuahkan kejayaan besar yang menakutkan Inggeris yang menjajah Palestin saat itu. Beliau syahid dalam satu pertempuran dahsyat di Kota Jenin, bersama 10 orang mujahid yang digempur dengan ratusan pasukan Inggeris yang menggunakan helikopter. Kini, nama beliau disematkan kepada sayap ketenteraan Hamas iaitu Brigade As-Syahid Izzuddin Al-Qassam yang sering dikenal dengan aksi-aksi pelancaran roket Al-Qassam dan operasi Amaliyyah Al-Istisyhadiyyah. 


My News

islamiconlineuniversity.com

Learn How to give Dawah

Alafasy Quran TV - Syeikh Misyari Rasyid Al-Afasy

Radio Rodja - Menebar Cahaya Sunnah - Kuliah Hadist

Iklan Nuff