Showing posts with label Tasauf. Show all posts
Showing posts with label Tasauf. Show all posts

IN MY HEAD: ?

Sunday, February 27, 2011

Beragama Islam Secara Kaaffah

teladan

(1). Bagaimana kecenderungan mufassirin (mutaqaddi-min – mutaakhirin) dalam menyimpulkan perintah memasuki Islam secara kaffah sesuai teks ayat : أدْخـُلوُا فِى السِّـلْمِ كَافَّةً (QS. al-Baqarah : 208)?
Jawaban :
Kecenderungan Mufassirin dalam menafsirkan perintah masuk Islam secara kaffah ada dua golongan yaitu :
1.    Perintah masuk Islam bagi seluruh umat manusia.
2.    Perintah terhadap umat Islam agar menerapkan syari’at secara penuh dengan segala kemampuannya.
المراجع:
التفسير الكبير للإمام فخر الدين محمد بن عمر الرازى {ط.دار الكتب العلمية}
(يَاأيُّهَا الذِيْنَ آمَنُوا) بِِالألْسِنَةِ (أدْخُلُوْا فِى السِّلْمِ كَافَّةً) أى دُومُوا عَلَى الإِسْلاَمِ فِيمَا يَسْتَأنِفُوْنَهُ مِنَ العُمْرِ وَلاَ تَخْرُجُوا عَنْهُ وَلاَ عَنْ شَرَائِعِهِ …. الى أن قال … قَالَ القَفَّالُ (كافة) يَصِحُّ أنْ يُرْجَعَ الَى المَأمُورِينَ بِالدُّخُولِ اى أُدْخُلُوا بِأجْمَعِكُمْ فِى السِّلمِ وَلاَ تَفَرَّقُوا وَلاَ تَخْتَلِفُوا – الى ان قال-  وَيَصْلُحُ أنْ يُرْجَعَ اِلَى الإِسْلاَمِ كُلُّهُ اى فِى كُلِّ شَرَائِعِهِ، قالَ الوَاحِدِى رَحِمَهُ الله: هَذَا ألْيَقُ بِظَاهِرِ التَّفْسِيرِ لأنَّهُمْ أُمِرُوا بِالقِيَامِ كُلِهَا
Terjemah :
Firman Allah (artinya) : “Wahai orang-orang yang beriman masuklah kalian dalam Islam secara keseluruhan”. Maksudnya tetaplah kalian semua diatas agama Islam sejak awal permulaan dan janganlah kalian keluar dar Islam dan syariat Islam  -sampai perkataan mufassir-  Imam Qaffal berkata : kata “kaaffah = keseluruhan” bisa kembalikan kepada mereka yang diperintah masuk Islam, sehingga maksudnya : masuklah kalian kesemuanya dalam agama Islam dan janganlah berpisah-pisah dan jangan pula berbeda-beda,  -sampai perkataan mufassir-  dan pastas pula kata “kaaffah = keseluruhan” dikembalikan kepada Islam, yakni seluruh syariat Islam. Al Wahidi ra berkata : pendapat ini lebih layak dengan dhahirnya tafsir karena mereka (orang-orang mukmin) diperintah melaksanakan keseluruhan syariat Islam.
تفسير النسفى الجزء الأول ص. 104-105
يا أيها الذين آمنواادخلوا فى السلم وبفتح السين حجازى وهو الاستسلام والطاعة أي استسلموا لله وأطيعوه أو الإسلام والخطاب لأهل الكتاب لأنهم آمنوا بنبيهم وكتابهم أو للمنافقين لأنهم آمنوا بألسنتهم كافة لا يخرج أحدمنكم يده عن طاعته حال من الضمير فى ادخلوا أى جميعا أو من السلم لانها تؤنث كأنهم أمروا أن يدخلوا فى الطاعات كلها أو فى شعب الإسلام وشرائعه كلها وكافة من الكف كأنهم كفوا أن يخرج منهم أحد باجتماعهم
Terjemah :
“Hai orang-orang yang beriman masuklah kalian semua didalam keselamatan” , salmi dengan dibaca fathah sinnya itu menurut Ahli Hijaz yang artinya menyerah dan taat. Maksudnya menyerahlah kalian kehadirat Alloh dan taatlah kepada-Nya. Atau Islam dan berarti pembicaraan ini ditujukan kepada Ahli Kitab, karena mereka Iman kepada Nabi-Nya dan Kitab-Nya,atau pembicaraan ditujukan kepada orang-orang munafik karena mereka beriman hanya dengan lisannya. Kata kaaffah (secara keseluruhan) artinya tak satupun dari kalian yang keluar dari taat kepada Alloh, sehingga lafadz Kaffah itu menjadi Haal dari dhomir yang ada pada  Udkhuluu yang semakna denga jami’an yang artinya  semua atau kaaffah menjadi haal dari Assilmi karena ia muannats. Seakan-akan mereka diperintah untuk melakukan seluruh ketaatan atau cabang-cabang Islam dan syariat-syariatnya. Lafadz Kaaffah dari kata Al Kaffa, seakan-akan mereka mencegah jangan sampai seorangpun dari mereka  keluar sebabmereka  telah berkumpul.
التفسير المنير للدكتور وهبة الزحيلي جز 2 ص 340 ط : دار الفكر المعاصر
الاسلام كل لايتجزء فمن امن به وجب عليه الأخذ به كله فلا يختار منه مايرضيه ويترك مالايرضيه او يجمع بينه وبين غيره من الأديان لأن الله تعالى امر باتباع جميع تعاليمه وتطبيق كل فرائضه واحترام مجموع نظامه بالحل او الإباحة والحظر او الحرمة
Terjemah:
Agama Islam sesuatu yang utuh yang tak boleh dipecah-pecah, maka barang siapa beriman kepada islam maka ia wajib mengambil keseluruhannya. Jadi dia tidak boleh memilih hukum Islam yang ia senangi dan meninggalkan hukum Islam yang tidak ia sukai atau mengumpulkan antara Islam dan agama-agama yang lain, karna Allah Ta’ala memerintahkan mengikuti seluruh ajaran-ajaran Islam,  menerapkan semua kewajiban-kewajibannya dan memulyakan semua aturan-aturannya tentang halal dan haram.
)2(. Apakah manifestasi berislam secara kaffah mengharuskan pemberlakuan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara (konstitusional) dan kehidupan bermasyarakat (kultural) di Indonesia ?
Jawaban :
Penerapan syari’at Islam dalam kehidupan bernegara (konstitusi) dan dalam kehidupan bermasyarakat (kultur) adalah tanggung jawab bersama setiap muslim. Usaha menerapkan hukum Islam dalam konstitusi negara harus dilaksanakan dengan cara-cara yang jauh dari kekerasan. Tahapan amar ma’ruf nahy munkar adalah satu-satunya cara yang dapat ditempuh dalam memperjuangkan berlakunya hukum Islam dalam negara.

solat

Gambar Hiasan

بغية المسترشدين  ص : 271
وَالاسْلاَمُ لاَيَسْمَحُ المُسْلِمَ اَنْ يَتَّخِذَ مِنْ غَيْرِ شَرِيْعَةٍ الله قَانُونًا وَكُلُّ مَا يَخْرُجُ عَنْ نُصُوصِ الشَّرِيعَةِ اوْ مَبَادئِهَا العَلِيَّةِ اَو رُوْحِهَا التَشْرِيْعِيَّةِ مُحَرَّمٌ تَحْرِيْمًا  قَاطِعًا عَلَى المُسْلِمِ بِنَصِّ القُرْانِ الصَّرِيْحِ
Terjemah :
Islam tidak memberi toleransi kepada orang Islam untuk menjadikan undang-unfang dari selain syariat Allah. Dan setiap sesuatu yang keluar dari nash syariat atau dasar-dasar syariat yang luhur atau (ruh) jiwa tasyri’iyyah adalah diharamkan secara pasti atas orang muslim berdasarkan dalil nash al Qur’an yang jelas.
بغية المسترشدين:271 دار الفكر
(فائدة) –الى ان قال- وَمِنْهَا تَجِبُ أنْ تكُونَ الأحْكَامُ كُلُهَا بِوَجْهِ الشَّرْعِ الشَّرِيْفِ وَأمَّا أحْكَامُ السِّيَاسَةِ فَمَا هِىَ إلاَّ ظُنُونٌ.
Terjemah :
(Faidah) sampai perkataan mushannif : Sebagian diantaranya, semua hukum harus memakai syariat yang mulia, sedangkan hukum siyasah (politik) tiada lain hanyalah menggunakan prasangka-prasangka.
تفسير ابن كثير جز 2 ص : 16
وقال علي بن ابى طلحة عن ابن عباس قوله ومن لم يحكم بما انزل الله فاؤلئك هم الكافرون قال ومن جحد ما انزل الله فقد كفر ومن اقر به ولم يحكم به فهو ظالم فاسق
Terjemah :
Berkata Ali bin Abi Thalhah dari Ibnu Abbas tentang firman Allah (artinya) : “ Barang siapa tidak menghukumi dengan hukum yang diturunkan Allah, maka mereka itu orang-orang kafir”, bahwa barang siapa mengingkari hukum yang ditutrunkah Allah maka dia kafir dan barang siapa mengakui hukum Allah namun dia tidak menghukumi dengannya dia itulah orang dhalim dan fasik.
غاية  تلخيص المراد ص : 263
يجب على الحاكم الوقوف على احكام الشريعة التى اقيم لها ولا يتعداه الى احكام السياسة بل يجب عليه قصر من تعدى ذلك وزجره وتعزيره وتعريفه ان الحق كذا
Terjemah :
Wajib atas seorang hakim tetap konsisten pada hukum-hukum syariat sesuai tujuan dinobatkannya hakim itu dan jangan sampai melampaui sampai pada hukum-hukum siyasah (politik), bahkan ia wajib membatasi orang yang melanggarnya, mencegahnya, menta’zirnya dan memberitahu bahwa hukum yang benar adalah begini.
)3(. Berdosakah orang Islam di Indonesia karena membiarkan tidak diamalkannya ajaran syari’at Islam oleh negara tempat ia menetap tinggal ?
Jawaban :
Bagi yang mampu dan mempunyai akses untuk perjuangan berlakunya hukum Islam maka harus benar-benar melaksanakan tanggung jawabnya, sehingga pabila mereka (yang mampu) tidak ada usaha untuk berlakunya syariat Islam di Indonesia maka berdosa. Bagi masarakat umum  berkewajiban memberi dukungan penuh demi berlakunya hukum Islam.
عَنْ طَارِقِ بْنِ شِهَابٍ قالَ سَمِعتُ رَسو لَ اللهِ صلى الله عليه وسلم يَقُولُ مَن رَأى مِنكُمْ مُنكَرًا فَليُغَيِّرْهُ بِيَدِه فَاِن لَم يَسْتطِعْ فَبِلِسانِه فَانْ لَمْ يَسْتطِعْ فَبِقَلبِهِ وَذَلِكَ اَضْعَفُ الايْمَانِ  (رواه البخارى )
Terjemah :
Diriwayatkan dari Thariq bin Syihab dia berkata : aku mendengan Rasulullah saw bersabda : “Barang siapa diantara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia memberantasnya dengan tangan (kekuasaan) nya, lalu jika ia tidak mampu maka memberantasnya dengan lisannya, lalu jika tidak mampu maka memberantasnya dengan hatinya dan demikian itu peling lemahnya iman. (HR: Bukhari)
الغنية لطالب طريق الحق جز 1 ص : 51
وَقالَ الشَيْخُ عَبدُ القَادِرِ الجَيلانِى رضِيَ الله عَنهُ فَالمُنْكِرونَ ثلاثةُ اَقسَامٍ قِسْمٌ يَكُونُ اِنْكارُهُ بِاليَدِ وَهُمُ الأئِمَّةُ وَالسَّلاطِينُ وَالقِسْمُ الثانِى اِنْكارُهُم بِاللِسَانِ دُونَ اليَدِ وَهُم العُلمَاءُ وَالقِسمُ الثالِثُ اِنْكارُهُم بِالقَلْبِ وَهُم العَامَّةُ
Terjemah :
Syaikh Abdul Qodir Jailani berkata :
Orang-orang yang menginkari (menentang) itu ada tiga macam :
-    Ingkar dengan kekuatan yaitu ingkarnya para pemimpin dan penguasa.
-    Yang kedua ingkar dengan lisan bukan dengan kekuatan yaitu ingkarnya para ulama’
-    Yang ketiga ingkar dengan hati yaitu ingkarnya orang-orang umum.
حاشية الجمل شرح المنهج جز: 5  ص : 182 – 183
وبأمر بمعروف ونهى عن المنكر اى الامر بواجبات الشرع والنهي عن محرماته اذا لم يخف على نفسه او ماله او على غيره مقسدة المنكر الواقع
Terjemah :
Perintah kebagusan mencegah kemungkaran artinya perintah dengan kewajiban-kewajiban syara’ dan mencegah dari perkara yang diharamkan syara’. kalau memang dia tidak takut pada kerusakan yang terjadi pada dirinya, hartanya atau yang lain, dengan kerusakan yang nyata.
تفسير البيضاوي ج: 2 ص: 328
ومن   لم يحكم   بما أنزل الله مستهينا به منكراله فأولئك هم الكافرون لاستهانتهم به وتمردهم بأن حكموا بغيره ولذلك وصفهم بقوله الكافرون و الظالمون و الفاسقون فكفرهم لإنكاره وظلمهم بالحكم على خلافه وفسقهم بالخروج عنه
Terjemah :
Barang siapa menghukumi tidak sesuai hukum yang diturunkan Alloh bahkan dia malah menghinanya, dan menginkarinya, maka dihukumi Kafir. Karena dia menghina terhadap hukum dan menolaknya dengan gambaran dia menghukumi tanpa memakai hukumnya Alloh, karena itu Alloh mensifati mereka dengan predikat kafirun, dholimun, dan fasiqun. Sifat kafir karena mereka inkar dan  aniaya  dengan menghukumi dengan selain huku Alloh dan kefasikan mereka karena mereka keluar dari hukum-hukum-Nya.
)4(. Bolehkah masing-masing WNI yang beragama Islam atau kelompok mereka menerapkan secara sepihak hukum publik yang menjadi bagian dari syari’at Islam (seperti hukum jinayat( ?
Jawaban :
Penerapan syariat Islam di bidang pemberlakuan hudud (hukuman mati, potong tangan, cambuk  dan lain-lain) adalah hak prerogratif negara. Masyarakat umum tidak boleh melaksanakan sendiri-sendiri atau pada kelompok masing-masing.

26women

Gambar Hiasan


Tambahan:
Bagi organisasi-organisasi Islam seperti NU, diharapkan memberikan masukan-masukan kepada pemerintah untuk berlakunya hukum Islam dalam konstitusi negara.
الفقه الإسلامى وادلته الجزء السادس ص:58
ثَانِيًا لا يُقِيمُ الحُدُودُ إلاَّ الإمَامُ اَو مَنْ فَوَّضَ اِلَيهِ إلإِمَامُ بِاتِّفَاقِ الفُقَهَاءِ لأَنَّهُ لَمْ يَقُمْ حَدٌّ عَلَى عَهْدِ رَسُولِ الله صلى الله عليه وَسَلمَ إلاَّ بِإذْنِهِ وَلا فِى أيَّامِ الخُلفَاءِ إلاَّ بِإذْنِهِمْ وَلأَنَّ الحَدَّ حَقُّ اللهِ تعَالى يَفْتقِرُ اِلى الإِجْتِهَادِ وَلا يُؤْمَنُ فِيه الحَيفُ فَلَمْ يَجُزْ بِغَيرِ إذْنِ الإمَامِ
Terjemah :
Kedua: tidak boleh menegakkan hukuman kecuali seorang imam atau orang yang dikasih kepercayaan (mandat) oleh imam. bitthifaqil fuqoha’ (sesuai kesepakatan ahli fiqih), karena had (hukuman) tidak ditegakkan pada masa hidupnya Nabi SAW, kecuali dapat izin dari beliau dan pada masa Khulafaur rasyidin kecuali dapat izin dari beliau-beliau. Karena hukuman (had) itu haqqulloh yang membutuhkan ijtihad  (kesungguhan yang maksimal), dan padahal tak ada jaminan aman dari penyelewengan, karenanya maka  tidak boleh (menghukum) kecuali dengan izin imam.
الموسوعة الفقهية 3:167
اَلإسْتِبْدَادُ المُفْضِى اِلىَ الضَّرَرِ اَوِ الظُّلْمِ مَمْنُوْعٌ كَالإسْتِبْدَادِ فِى احْتِكَارِ الاَقْوَاتِ وَاسْتِبْدَادِ اَحَدِ الرَّعِيَّةِ فِيمَا هُوَ مِنَ اخْتِصَاصِ الاِمَامِ مِثلَ الْجِهَادِ وَالاِسْتِبْدَادِ فِى إقَامَةِ الحُدُودِ بِغَيْرِ إذْنِ الإمَامِ.
Terjemah :
Sewenang-wenang yang dapat menimbulkan terhadap dhoror (bahaya) atau dzolim itu dilarang, seperti sewenang-wenang menimbun makanan pokok, dan sewenang-wenangnya salah satu rakyat dalam urusan yang merupakan hak khusus imam, seperti  jihad (berperang) dan sewenang-wenang menegakkan hukuman (had) dengan tanpa izinnya imam.
الموسوعة الفقهية 17/240-242
الشرط السادس: الإذن من الإمام:16 – اشترط فريق من العلماء فى المحتسب أن يكون مأذونا من جهة الإمام أو الوالي،وقالوا: ليس للآحاد من الرعية الحسبة والجمهور على خلافه الا فيما كان محتاجا فيه الى الاستعانة وجمع الاعوان وما كان خاصا بالائمة او نوابهم كاقامة الحدود وحفظ البيضة وسد الثغور اما ما ليس كذلك فان لآحاد الناس القيام به لان الادلة وردت فى الامر والنهي والدع عاماة  – الى ان قال -  واما جمع الاعوان وشهر الاسلحة قد يجر الى قتنة عامة ففيه نظر وقد ذهب الى اشتراط الاذن فى هذه الحالة جماهر العلماء لانه يؤدي الى الفتن وهيجان الفساد وكذلك ما كان مختصا بالأئمة والولاة فلا يستقل بها الآحاد كالقصاص، فإنه لا يستوفى إلا بحضرة الإمام ،لأن الإنفراد باستيفائه محرك للفتن

Terjemah :
Syarat No. 6 : Dapat izin dari imam. Sebagian Ulama’ mensyaratkan untuk relawan harus mendapat izin  dari imam atau dari penguasa (wali). Para Ulama berkata: Bagi individu rakyat tidak boleh menjadi relawan ) eksekutor hukuman ). Kebanyakan ulama’ tidak sependapat dengan syarat diatas kecuali dalam urusan yang memerlukan bantuan dan mengumpulkan banyak pembantu dan urusan yang khusus bagi imam atau penggantinya seperti menegakkan hukuman, menjaga keutuhan/persatuan   memperkuat benteng pertahanan dan mengirikan pasukan. Adapun hal-hal yang tidak seperti diatas bagi individu-individu manusia boleh melakukannya karena dalil-dalil tentang perintah, larangan dan pencegahan berlaku umum -sampai perkataan mushannif- adapun mengumpulkan pembantu-pembantu dan menghunus pedang itu bisa jadi menimbulkan fitnah yang merata, maka dalam hal ini terdapat perbedaan pendapat. Kebanyakan para ulama’ dalam hal yang seperti ini berpendapat harus mendapat izin dari imam karna bisa menimbulkan fitnah dan gejolaknya kerusakan. Dan demikian pula sesuatu yang khusus bagi imam dan penguasa, maka perorangan tidak boleh melakukan sendiri, seperti qishos (hukuman balasan sepadan) . Sesungguhnya seseorang tidak boleh melaksanakan (hukuman) kecuali adanya persetujuan dari imam, karena kesendirian dalam malaksanakan hukuman, akan dapat menimbulkan fitnah.
)5(. Sesuaikah dengan prinsip ahkam sulthaniyah bila secara diam-diam sekelompok umat Islam di Indonesia membaiat dan mengesahkan amir/pemimpin Islam guna menjadi landasan legitimasi ibadah atau pengamalan agama kelompok tersebut ?
Jawaban:
Membaiat dan mengesahkan amir/pemimpin Islam dengan tidak mengakui terhadap keabsahan kepemimpinan yang sudah ada tidak sesuai dengan prinsip hukum bernegara menurut Islam.

المراجع:
كشاف القناع للبهوتى الحنبلى الجزء السادس ص:205
الرَّابِعُ قَوْمٌ مِنْ أهْلِ الحَقِّ  بَايَنُوا الإمَامَ وَرَامَوْا خَلْعَهُ أي عَزْلَهُ أوْ مُخَالَفتَهُ بِتَأوِيْلٍ سَائِغٍ بِصَوَابٍ أوْ خَطَأٍ وَلهُمْ مَنْعَةٌ وَشَوْكَةٌ بِحَيثُ يَحْتاجُ فِي كَفِّهِمْ إلَى جَمْعِ جَيْشٍ وَهُم البُغَاةُ المَقصُودُونَ بِالتَّرْجَمَةِ فَمَن خَرجَ عَلَى إمَامٍ عَدْلٍ بِأحَدِ هَذهِ الوُجُوهِ الأرْبَعةِ بَاغِيًا وَجَبَ قِتالُهُ لِمَا تَقَدَّمَ أوَّلَ البَابِ
Terjemah :
Yang ke-empat: suatu kaum dari ahli haq (kebenaran) melawan terhadap imam dan menuduh bahwa ia telah terpecat/menentangnya dengan ta’wil yang benar/salah, dan mereka itu memiliki kekuatan dan kekuasaan, sekira imam butuh terhadap pasukan untuk mencegah mereka , maka kaum itu dikatakan AL Bughoh (penentang Imam) sebagaimana yang dikehendaki dalam terjemah/judul barang siapa memberontak terhadap Imam yang ‘adil dengan sebab satu diantara empat macam dengan jelas-jelas membangkang maka orang tersebut wajib diperangi karna adanya keterangan yang sudah dijelaskan diawal bab.
التشريع الجنانى الإسلامى لعبد القادر عودة الجزء الثانى ص:675
يشترط لوجود جريمة البغى الخروج على الإمام والخروج المقصود هو مخالفة الإمام والعمل لخلعه أو الإمتناع عما وجب على الخارجين من حقوق ويستوى أن تكون هذه الحقوق لله اى مقررة لمصلحة الجماعة او للأشخاص اى مقررة لمصلحة الأفراد فيدخل تحتها كل حق تفرضه الشريعة للحاكم على المحكوم وكل حق للحماعة على الأفراد وكل حق للفرد على الفرد فمن امتنع عن أداء الزكات فقد امتنع عن حق وجب عليهم ومن امتنع عن تنفيذ حكم متعلق بحكم الله كحد الزنا أو متعلق بحق الأفراد كالقصاص فقد امتنع عن حق وجب عليه ومن امتنع عن طاعة الإمام فقد امتنع عن الحق الذى وجب عليه وهكذا ولكم من المتفق عليه  أن الإمتناع عن الطاعة فى معصية ليس بغيا وإنما هو واجب على كل مسلم لأن الطاعة لم تفرض إلا فى معروف ولا تجوز فى معصية.
Terjemah :
Disyaratkan wujudnya kejahatan makar adalah membangkang terhadap Imam. Pembangkangan dimaksud yaitu menentang imam dan melakukan yang mengarah kepada pemecatan imam atau menolak hak-hak yang wajib atas para pembangkang. Dan sama hak-hak ini bagi Allah ya’ni yang ditetapkan demi kemaslahatan orang banyak atau perorangan maksudnya ditetapkan demi kemaslahatan perorangan. Termasuk didalam hak-hak ini setiap hak yang diwajibkan syari’at bagi hakim atas orang yang dihukumi, setiap hak bagi golongan atas perorangan dan setiap hak bagi perorangan atas perorangan. Jadi barang siapa mencegah membayar zakat maka berarti dia mencegah hak yang wajib atas mereka dan barang siapa
mencegah menegakkan hukum yang behubungan dengan hukum Allah seperti hukuman zina atau yang berhubungan dengan hak perorangan seperti Qishos maka ia mencegah haq yang wajib atas dia.
Dan barang siapa menolak ta’at kepada imam  maka berarti ia menolak hak yang wajib atas dia  dan seterusnya. Bagi kalian dari hal yang disepakati ulama’bahwa sesungguhnya menolak taat didalam maksiat bukanlah pembangkangan akan tetapi suatu kewajiban atas setiap orang Islam, karena taat itu tidak wajib kecuali dalam kebaikan dan  taat  pada kemaksiatan tidak diperbolehkan.

البيان في فقه الامام الشافعي جز 12 ص 9 ط: دار الكتب العلمية
قال القفال وسواء كان الامام عادلا او جائرا فان الخارج عليهم باغ اذالإمام لاينعزل بالجور وسواء كان الخارج عليه عادلا او جائرا فان خروجه على الامام جور
Terjemah :
Imam Qaffal berkata : baik imam itu adil atau menyeleweng, maka membangkang kepadanya adalah bughat, karena imam tidak bisa terpecat sebab menyeleweng baik pihak pembangkang itu adil atau menyeleweng. Sebab membangkang kepada imam adalah perbuatan makar.
)6(. Sebagai konsekuensi Islam kaffah haruskah dilakukan jihad guna menangkal praktek kemungkaran oleh WNI non-muslim, seperti lokalisasi PSK, penjualan/ konsumsi minuman keras, budidaya hewan babi, arena hiburan yang penuh ma’shiyat, dan lain sebagainya ?
Jawaban:
Sebagai konsekwensi Islam kaffah dalam rangka menangkal praktek kemunkaran wajib dilakukan jihad dalam pengertian  أمر معروف نهى منكر sesuai dengan tahapan-tahapannya, dan harus berupaya untuk tidak menimbulkan kemunkaran yang lebih besar atau fitnah.
المراجع:
أحكام القرأن لإبن العربي ج : 1 ص : 382 ، مانصه :
(وَلْتكُنْ مِنْكُم أمَّةٌ) دَليلٌ عَلى اَنَّ الأمْرَ بِالمَعْرُوفِ وَالنَّهْيَ عَن المُنكَرِ فَرْضٌ
Terjemah :
Firman Allah (artinya) : “Hendaklah diantara kalian terdapat ummat, yang mengajak kebaikan”. Ayat ini sebagai dasar perintah berbuat baik dan mencegah melakukan kemungkaran.
التشريع الجنائ الاسلامى جز 2 ص :677 , ف : الشيخ عبد القادر عودة  , ط : مؤسسة الرسالة
ومع ان العدالة شرط من شروط الامامة الا ان الرأي الراجح في المذاهب الاربعة ومذهب الشيعة الزيدية هو تحريم الخروج على الامام الفاسق الفاجر ولو كان الخروج للامر بالمعروف والنهي عن المنكر لان الخروج على الامام يؤدي عادة الى هو انكر مما فيه وبهذا يمتنع النهي عن المنكر لان منشروطه لايؤدي الانكار الى ماهو انكر من ذلك الى الفتن وسفك الدماء وبث الفساد واضطراب البلاد واضلال العباد وتوهين الامن وهدم النظام
Terjemah :
Sifat adil itu menjadi syarat untuk menjadi imam kecuali pendapat yang unggul, itu menurut empat Madzhab, dan menurut madzhab Syi’ah Zaidiyah. Haram keluar dari imam yang fasiq, lacut itu haram, walaupun adanya kelauar itu untuk perintah kebaikan dan mencegah kemungkaran. Karena keluar dari imam bisa mendatangkan kebiasaan ingkar dari perkara tersebut. Dengan demikian terlarang mencegah kemungkaran. Karena yang disyaratkannya iru tidak akan mendatangkan keinkaran lain yang lebih darinya. Sampai menimbulkan fitnah, pertumpahan darah, meratanya kerusakan, kacaunya negara, menyesatkan masyarakat, merapuhkan keamanan dan merusak tatanan.

full time islam

بغية المسترشدين ، ص : 251، مانصه :
وَلَهُ دَرَجَتَانِ . التَعْرِيفُ ثُمَّ الوَعْظُ بِالكَلامِ اللَّطِيفِ ثُمَّ السَّبُّ وَالتَعْنِيفُ ثمَّ المَنْعُ بِالقَهْرِ ، وَالأوَّلانِ يَعُمَّانِ سَائِرَ المُسْلِمِينَ وَالأخِيرَانِ مَخْصُوصَانِ بِوُلاةِ الأمُورِ اهـ.
Terjemah :
Baginya dua tingkatan, diperingatkan, dinasehati dengan ucapan yang halus, dicaci maki dan kekerasan kemudian dicegah dengan paksa.
Sedangkan dua kewajiban yang pertama berlaku umum untuk semua orang Islam dan yang dua kewajiban yang akhir khusus bagi penguasa.

Sumber.

Waallahualam.

Saturday, February 5, 2011

Pertanyaan Besar Para Sahabat

perhimpunan besar mesir

Gambar Hiasan

Wahai Rasulullah, terangkanlah padaku amal yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.

Meskipun Rasulullah Saw. menilai bahwa pertanyaan Mu’adz tentang amal yang mengantarkan ke surga dan menjauhkan dari neraka adalah pertanyaan besar, namun bukan berarti bahwa hal itu sulit (apalagi mustahil) dijawab.

عَنْ مُعاذٍ – رضي الله عنه – قال : قُلتُ : يا رَسولَ الله أَخبِرني بِعَمَلٍ يُدخِلُني الجَنَّةَ ويُباعِدُني مِنَ النَّارِ ، قال : (( لقَدْ سَأَلْتَ عَنْ عَظيمٍ وإنَّهُ لَيَسيرٌ عَلَى مَنْ يَسَّرَهُ الله عليه : تَعْبُدُ الله لا تُشْرِكُ بهِ شيئاً ، وتُقيمُ الصَّلاةَ ، وتُؤتِي الزَّكاةَ ، وتَصُومُ رَمضَانَ ، وتَحُجُّ البَيتَ )) . ثمَّ قالَ : (( ألا أَدُلُّكَ على أبوابِ الخير ؟ الصَّومُ جُنَّةٌ ، والصَّدقَةُ تُطْفِئُ الخَطيئَةَ كَما يُطفئُ الماءُ النارَ ، وصَلاةُ الرَّجُلِ مِنْ جَوفِ اللَّيلِ ، ثمَّ تلا : { تَتَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ } حتَّى بَلَغَ : { يَعْمَلُوْنَ }…. رواهُ الترمذيُّ ، وقال : حَديثٌ حَسنٌ صَحيحٌ .

Dari Mu’adz bin Jabal (semoga Allah meridhoinya) berkata, “Aku berkata kepada Rasulullah Saw., ‘Wahai Rasulullah, terangkanlah padaku amal yang memasukkanku ke surga dan menjauhkanku dari neraka.’ Rasulullah menjawab, ‘Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu yang besar. Dan hal itu mudah bagi orang yang Allah mudahkan: engkau beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan haji ke baitullah.’ Kemudian Rasulullah Saw. mengatakan, ‘Inginkah engkau aku tunjukkan pintu-pintu kebaikan? Puasa adalah perisai/tameng, sedekah menghapuskan kesalahan sebagaimana air memadamkan api, dan shalat seseorang di tengah malam (seraya beliau membacakan ayat ‘Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya dan mereka selalu berdoa kepada Rabbnya dengan penuh rasa takut dan harap, serta mereka menafkahkan apa-apa rezeki yang Kami berikan. Tak seorangpun mengetahui berbagai nikmat yang menanti, yang indah dipandang sebagai balasan bagi mereka, atas apa yang mereka kerjakan.’ (Q.S. As-Sajdah [32]: 16-17)).’” (Diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia menyatakan hadits ini hasan)

Rasulullah Saw. mengatakan, “Sungguh engkau bertanya tentang sesuatu yang besar. Dan hal itu mudah bagi orang yang Allah beri kemudahan.”
Karena kita juga ingin dimasukkan ke surga dan dijauhkan dari neraka, mari kita ikuti jawaban Rasulullah Saw. Rasul memulai jawabannya dengan menyebut lima hal, yakni “Engkau beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, engkau mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadhan, dan haji ke baitullah.” Mudah bukan? Kelima hal yang disebutkan Rasulullah Saw. tersebut adalah yang biasa kita sebut sebagai rukun Islam, sebagaimana yang disebutkan dalam hadits berikut. “Islam dibangun di atas lima hal: pengesaan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa Ramadhan, dan haji.” (Riwayat Muslim)

Jawaban Rasulullah Saw. tersebut menegaskan banyak hal, antara lain

pertama, tentang prioritas amal.

Bahwa amal yang memiliki nilai keutamaan adalah melaksanakan ibadah wajib sebelum melaksanakan yang sunah (nafilah). Melaksanakan yang Allah Swt. wajibkan merupakan hal yang paling dicintai-Nya dari seorang hamba. Itulah yang harus dilakukan manakala seorang hamba ingin mendekatkan dan mendapatkan kecintaan Tuhannya. Dalam sebuah hadits qudsi disebutkan, “Dan tidaklah hamba-Ku mendekatkan diri kepada-Ku dengan sesuatu yang lebih Aku cintai selain dari apa yang Kuwajibkan kepadanya.” (H.R. Al-Bukhari).

Dengan demikian, kita tidak lebih fokus dan bersemangat melakukan ibadah-ibadah sunnah dengan mengabaikan yang wajib.

Kedua, tauhid (mengesakan Allah Swt.)

dan menjauhi syirik (menyekutukan Allah) adalah syarat mutlak seorang mukmin layak masuk ke surga. Tauhid merupakan jaminan keselamatan dan keamanan manusia di dunia dan akhirat.

Allah Swt. berfirman, “Orang-orang yang beriman dan tidak mencampuradukkan iman mereka dengan kezaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itu adalah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 82).

Terkait ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya menulis, “Orang-orang yang memurnikan ibadah kepada Allah semata tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu apapun, mereka itulah orang-orang yang aman (selamat) pada hari kiamat dan mendapatkan petunjuk di dunia dan akhirat.”

Syirik menghancurkan segala amal yang dilakukan oleh seorang mukmin. Allah Swt. berfirman, “… Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” (Q.S. Al-An’aam [6]: 88).

Karenanya, pelaku syirik diharamkan masuk surga oleh Allah Swt. “… Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang pun penolong.” (Q.S. Al-Maidah [5]: 72)

Sebaliknya, tauhid adalah jaminan selamat dari api neraka. Rasulullah Saw. bersabda, “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka orang yang mengucapkan tiada Tuhan selain Allah dengan tujuan untuk mendapat ridho Allah.” (H.R. Al-Bukhari).

Dalam hadits lain disebutkan, “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau jika datang kepada-Ku dengan dosa sepenuh bumi, kemudian engkau menjumpai-Ku dalam keadaan tidak menyekutukan Aku dengan apa pun, maka niscaya Aku datang kepadamu dengan ampunan sepenuh bumi.” (H.R. At-Tirmidzi).

Meskipun redaksi hadits ini hanya menyebutkan “beribadah kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun” yang berarti pengakuan tiada Tuhan selain Allah, namun di dalamnya telah terkandung pengakuan (syahadat) bahwa Nabi Muhammad adalah utusan Allah (muhammadun rasuulullaah).

Hal ini dikarenakan ibadah kepada Allah tidak mungkin dilaksanakan dengan baik dan benar kecuali dengan jalan tashdiq (membenarkan) segala yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Ketiga, tentu saja kalimat laa ilaaa illallah yang diucapkan harus “bergigi”.

Dengan kata lain, pengakuan bertauhid itu harus diiringi dan dibuktikan dengan amal dan inilah yang penulis maksud dengan giginya amal tersebut. Wahab bin Munabbih, seorang ulama dari kalangan tabiin, ditanya, “Bukankah kalimat laa ilaaha illallah itu kunci surga?” Beliau menjawab, “Benar. Akan tetapi tidak ada kunci yang tidak bergerigi. Jika Anda membawa kunci yang bergerigi maka Anda akan dapat membuka pintu. Jika tidak, maka Anda tidak akan dapat membukanya.”

Karenanya, Rasulullah Saw. kemudian menyebutkan hal-hal yang merupakan “gerigi” bagi “kunci” kalimat laa ilaaha illallaah: shalat (lima waktu), shaum di bulan Ramadhan, zakat, dan haji. Dengan demikian, kita semakin yakin bahwa pengakuan tauhid memerlukan tindak lanjut berupa amal-amal yang diperintahkan oleh Allah Swt.

Kita juga semakin yakin bahwa amal, seindah apa pun dalam pandangan manusia, akan mejadi sia-sia di mata Allah jika tidak dilandasi keimanan (tauhid) atau disertai kemusyrikan.

Jika shalat lima waktu, shaum Ramadhan, zakat, serta haji disebut sebagai rukun Islam dan Rasulullah Saw. menyebutnya sebagai persyaratan untuk masuk surga, maka kita memahaminya begini: dua kalimat syahadat adalah asas bagi rukun-rukun Islam dan sekaligus asas bagi Islam itu sendiri secara keseluruhan.

Shalat adalah asas bagi amal-amal ibadah. Allah Swt. telah menyariatkan doa, dzikir, membaca Al-Quran, tasbih, istighfar, dan sebagainya. Semuanya itu terangkum dalam shalat. Maka seluruh amal-amal itu tidak bernilai bagi yang melakukannya jika tidak menegakkan shalat yang lima waktu.

Zakat adalah asas dalam soal perlakuan terhadap harta. Prinsipnya, harta adalah milik Allah yang dititipkan-Nya kepada manusia. Oleh karena itu, manusia harus mengelolannya sesuai dengan yang diperintahkan Allah Swt.

Shaum/puasa adalah asas bagi upaya mengendalikan dan mengarahkan hawa nafsu. Allah telah menjadikan kemampuan mengendalikan hawa nafsu sebagai karakter orang yang layak masuk surga. Haji adalah asas bagi perjuangan yang melibatkan seluruh potensi yang dimiliki manusia; baik jiwa, hati, fisik, maupun harta. Rasulullah Saw. mengatakan, “Seutama-utama jihad adalah haji mabrur.”

Sumber.

Sunday, January 9, 2011

Takhalli, Tahalli, dan Tajalli

Manusia dilengkapi oleh Allah dua hal pokok, yaitu jasmani dan rohani. Dua hal ini memiliki keperluan masing-masing. Jasmani membutuhkan makan, minum, pelampiasan syahwat, keindahan, pakaian, perhiasan-perhiasan dan kemasyhuran. Rohani, pada sisi lain, membutuhkan kedamaian, ketenteraman, kasih-sayang dan cinta.Para sufi menegaskan bahwa hakekat sesungguhnya manusia adalah rohaninya. Ia adalah muara segala kebajikan. Kebahagiaan badani sangat tergantung pada kebahagiaan rohani.

50671870_fdeeb4b945

Sedangkan, kebahagiaan rohani tidak terikat pada wujud luar jasmani manusia. Sebagai inti hidup, rohani harus ditempatkan pada posisi yang lebih tinggi. Semakin tinggi rohani diletakkan, kedudukan manusia akan semakin agung. Jika rohani berada pada tempat rendah, hina pulalah hidup manusia. Fitrah rohani adalah kemuliaan, jasmani pada kerendahan. Badan yang tidak memiliki rohani tinggi, akan selalu menuntut pemenuhan kebutuhan-kebutuhan rendah hewani.

58655_469537119782_695629782_6700400_239943_n

Rohani hendaknya dibebaskan dari ikatan keinginan hewani, yaitu kecintaan pada pemenuhan syahwat dan keduniaan. Hati manusia yang terpenuhi dengan cinta pada dunia, akan melahirkan kegelisahan dan kebimbangan yang tidak berujung. Hati adalah cerminan ruh. Kebutuhan ruh akan cinta bukan untuk dipenuhi dengan kesibukan pada dunia. Ia harus bersih.

Dalam rangkaian metode pembersihan hati, para sufi menetapkan dengan tiga tahap : Takhalli, Tahalli, dan Tajalli. Takhalli, sebagai tahap pertama dalam mengurus hati, adalah membersihkan hati dari keterikatan pada dunia. Hati, sebagai langkah pertama, harus dikosongkan. Ia disyaratkan terbebas dari kecintaan terhadap dunia, anak, istri, harta dan segala keinginan duniawi.

Dunia dan isinya, oleh para sufi, dipandang rendah. Ia bukan hakekat tujuan manusia. Manakala kita meninggalkan dunia ini, harta akan sirna dan lenyap. Hati yang sibuk pada dunia, saat ditinggalkannya, akan dihinggapi kesedihan, kekecewaan, kepedihan dan penderitaan. Untuk melepaskan diri dari segala bentuk kesedihan, lanjut para saleh sufi, seorang manusia harus terlebih dulu melepaskan hatinya dari kecintaan pada dunia.

Tahalli, sebagai tahap kedua berikutnya, adalah upaya pengisian hati yang telah dikosongkan dengan isi yang lain, yaitu Allah (swt). Pada tahap ini, hati harus selalu disibukkan dengan dzikir dan mengingat Allah. Dengan mengingat Allah, melepas selain-Nya, akan mendatangkan kedamaian. Tidak ada yang ditakutkan selain lepasnya Allah dari dalam hatinya. Hilangnya dunia, bagi hati yang telah tahalli, tidak akan mengecewakan. Waktunya sibuk hanya untuk Allah, bersenandung dalam dzikir.

Pada saat tahalli, lantaran kesibukan dengan mengingat dan berdzikir kepada Allah dalam hatinya, anggota tubuh lainnya tergerak dengan sendirinya ikut bersenandung dzikir. Lidahnya basah dengan lafadz kebesaran Allah yang tidak henti-hentinya didengungkan setiap saat. Tangannya berdzikir untuk kebesaran Tuhannya dalam berbuat. Begitu pula, mata, kaki, dan anggota tubuh yang lain. Pada tahap ini, hati akan merasai ketenangan. Kegelisahannya bukan lagi pada dunia yang menipu. Kesedihannya bukan pada anak dan istri yang tidak akan menyertai kita saat maut menjemput. Kepedihannya bukan pada syahwat badani yang seringkali memperosokkan pada kebinatangan. Tapi hanya kepada Allah. Hatinya sedih jika tidak mengingat Allah dalam setiap detik.

Setelah tahap ‘pengosongan’ dan ‘pengisian’, sebagai tahap ketiga adalah Tajalli. Yaitu, tahapan dimana kebahagian sejati telah datang. Ia lenyap dalam wilayah Jalla Jalaluh, Allah subhanahu wataâala. Ia lebur bersama Allah dalam kenikmatan yang tidak bisa dilukiskan. Ia bahagia dalam keridhoâan-Nya. Pada tahap ini, para sufi menyebutnya sebagai maârifah, orang yang sempurna sebagai manusia luhur.

Syekh Abdul Qadir Jaelani menyebutnya sebagai insan kamil, manusia sempurna. Ia bukan lagi hewan, tapi seorang malaikat yang berbadan manusia. Rohaninya telah mencapai ketinggian kebahagiaan. Tradisi sufi menyebut orang yang telah masuk pada tahap ketiga ini sebagai waliyullah, kekasih Allah. Orang-orang yang telah memasuki tahapan Tajalli ini, ia telah mencapai derajat tertinggi kerohanian manusia. Derajat ini pernah dilalui oleh Hasan Basri, Imam Junaidi al-Baghdadi, Sirri Singkiti, Imam Ghazali, Rabiah al-Adawiyyah, Maâruf al-Karkhi, Imam Qusyairi, Ibrahim Ad-ham, Abu Nasr Sarraj, Abu Bakar Kalabadhi, Abu Talib Makki, Sayyid Ali Hujweri, Syekh Abdul Qadir Jaelani, dan lain sebagainya. Tahap inilah hakekat hidup dapat ditemui, yaitu kebahagiaan sejati.

Sumber

Wallahualam

Monday, April 12, 2010

Kata Yang Menyentuh Qalbu, Qalbu Yang Berkata-kata

ijtimak bangkokGambar Hiasan

“Sesungguhnya segala ujian, godaan, gangguan dan tentangan itu diizinkan Allah, Semata-mata mahu melihat kesungguhan dan memantapkan wadah keimanan kita”

langkah pelajar sekolah  Gambar Hiasan(sumber)

“Dalam kita melangkah, terkadang diuji dengan ujian yang terasa  berat hingga terduduk dan menangis… Peritnya amat terasa tapi ketahui dan renungilah kembali ke dalam diri. Mungkin DIA hadirkan air mata tika itu untuk kita menjahit kembali sejadah iman yang kian terkoyak. Antaranya ada langkah-langkah yang tersasar dari kesopanan ada niat yang terkeluar dari keimanan… Semoga kita sabar dan ditetapkan iman, Allah Maha Tahu apa yang terbaik untuk kita. Semoga hati kita redha dengan segala ujian ini..”

langit malam Gambar Hiasan

“Jika doamu tidak dimakbulkan itu tandanya Allah menyayangimu, Jika doamu lambat dimakbulkan itu tandanya Allah ingin mengujimu, Jika doamu tidak dimakbulkan itu tandanya Allah merancang yang terbaik untuk mu.”-Sumber-

“Tunaikan lah apa yang telah diwajibkan Tuhan ke atasmu maka engkau akan menjadi orang yang paling hebat ibadahnya. Jauhilah larangan-larangan Allah maka engkau akan menjadi orang yang paling zuhud.”

Bukankah benar?

Wallahualam.  Mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Isnin

27 Rabiul Tsanni 1431,

Tuesday, December 29, 2009

Keresahanku

Saudara-saudaraku
Khalwat merupakan ketenangan dan kebahagianku,
Kekasihku selalu di hadapanku
Tak mungkin aku mendapat penganti-Nya
Cinta-Nya pada makhluk cubaa bagiku
Dia lah tujuan hidupku
Oh, hati yang ikhlas
Oh, tumpuan harapan
Berikanlah jalan untuk menghilangkan keresahanku,
Oh, Tuhan sumber kebahagian dalam hidupku
Pada-Mu saja, kuserahkan hidup dan keinginan
Demi mencari redha-Mu.
Apakah harapanku akan terwujud.
-Rabiah al Adawiyah-
Kitab Ar radhulfa'iqu, hlm 188.

Thursday, July 16, 2009

Zuhud

Ustaz Kazim Elias

Kitab: Ihfazillah Yahfazka -Tempat: Surau AU4, Keramat

Sumber: manchuping

Konsep Zuhud Dalam Islam: Suatu Renungan di Alaf Baru

Oleh: Professor Madya Dr. Abdul Halim Muhammady

Zuhud adalah satu dari sifat kesempurnaan peribadi Muslim. la merupakan tanda kemantapan iman dalam hubungan manusia dengan Allah s.w.t. Memandangkan zuhud ini penting dalam kehidupan Muslim maka tulisan yang ringkas ini Cuba memberi huraian terhadap perkara-perkara berikut; definisi zuhud, asas-asas idea serta tingkatan-tingkatan zuhud, petanda-petanda dan kepentingannya dalam kehidupan Muslim.

DEFINISI ZUHUD

Perkataan "zuhud' adalah dari perkataan Arab. Ia berasal dari kata dasar "zahida" yang bermaksud mengelak dan meninggalkan sesuatu kerana kehinaannya atau kerana kekurangannya. Perkataan ini ada juga digunakan dalam al-Qur'an dengan ungkapan "al-Zahidin" maksudnya 'orang yang tidak suka'. Demikian juga penggunaannya di dalam hadith-hadith dengan ungkapan yang berbeza-beza tetapi mempunyai pengertian yang tidak jauh berbeza.

Perkataan Zuhud dalam penggunaan biasa memberi erti sebagaimana di atas. Tetapi pengertian zuhud yang lebih khusus, seperti yang dimaksudkan dalam tulisan ini ialah kebencian hati terhadap perkara-perkara keduniaan dan mengelak diri daripadanya kerana mentaati Allah s.w.t. sedangkan dia mempunyai keupayaan untuk mendapatkannya, tapi ia mengelakkan diri dari kegemaran itu dan meninggalkannya.

ASAS IDEA

Analisa tentang zuhud ini adalah berasaskan kepada al-Qur'an dan al-Sunnah. Antara ayat-ayat yang berkaitan dengannya adalah sebagai berikut:

Terjemahan: Lalu mereka menjualnya dengan harga yang murah iaitu beberapa dirham yang dihitung kerana mereka adalah orang yang tidak suka kepadanya.3
Firman-Nya lagi,

Terjemahan: Telah diperhiaskan manusia cinta kepada perkara perkara yang diingini iaitu perempuan-perempuan, anak-anak, emas dan perak yang berpikul-pikul, kuda yang baik, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang, yang demikian itu perhiasan hidup di dunia sedangkan dirinya di sisi Allah tempat kembali yang baik.

RasuluLlah s.a.w. juga pernah bersabda tentang zuhud antaranya ialah;

Tcrjemahan: Zahid lah kamu di dunia nescaya Allah mencintai kamu, dan zahid lah kamu apa yang ada pada tangan manusia, nescaya kamu dicintai oleh manusia.

Sabda Rasulullah s.a.w. lagi:

Terjemahan: Apabila Allah menghendaki seseorang itu baik maka dizahidkannya hidup di dunia dan mengemarkannya kepada akhirat dan memperlihatkan kekurangan dirinya.

ULASAN TERHADAP DEFINISI DAN NAS

Difahami darn definisi dan nas-nas di atas jelas mcnunjukkan hahawa apa yang dikehendaki dengan zuhud itu ialah mengelak dan menyisihkan diri dari perkara-perkara keduniaan kerana mentaati Allah dan mematuhi hukum-Nya.

Apakah sebenarnya yang dimaksudkan dengan perkara-perkara keduniaan itu'? Kita t1dak akan dapat memahami hakikat hidup zuhud, tanpa memahami terlehih dahulu maksud perkara-perkara keduniaan iii. Apa yang dimaksudkan dengan perkara-perkara keduniaan itu ialah seperti apa yang dijelaskan oleh al-Our'an. Allah s.w.t berfirman:

Terjemahan: Telah diperhiaskan manusia cinta kepada perkara-perkara yang diingini iaitu perempuan-perempuan, anak-cucu, emas dan perak yang berpikul-pikul, kuda-kuda yang baik, binatang-binatang ternakan dan sawah ladang, yang demikian itu perhiasan hidup di dunia, sedangkan di sisi Allah tempat kembali yang baik.

Dalam ayat yang lain pula Allah berfirman,

Terjemahan: Ketahui olehmu bahawa sesungguhnya hidup di dunia itu adalah mainan, leka, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu, membanyakkan harta dan anak-pinak…tidaklah kehidupan dunia itu kecuali kepuasan yang tertipu.
Allah s.w t. berfirman lagi,

Terjemahan: adalah mainan dan leka.

Kesimpulan dari nas di atas mengenai kehidupan dunia itu ialah kecenderungan manusia dan tumpuannya dalam usaha mencari kepuasan yang hanya mementingkan kebendaan semata-mata tanpa mengambil kira batasan hukum dan adab syara'. Ini termasuklah mencari kepuasan nafsu dengan perempuan, berbangga dengan anak dan keturunan, tamak dan mengumpul harta berpikul-pikul, dalam bentuk emas, perak, binatang-binatang ternakan, kebun-kebun dan sawah ladang. Mereka bukan sahaja berusaha untuk mengumpul harta malah mereka juga turut merasa bangga dengan pencapaian itu. Allah s.w.t. meletakkan orang yang menumpukan perhatian kepada perkara-perkara itu sebagai mereka yang hidup dalam main-main dan kelekaan semata-mata. Kepuasan yang mereka rasai itu sebenarnya kepuasan yang tertipu, bersifat sementara, merugikan dan melalaikan manusia dari menumpukan kepada hakikat yang lebih bernilai dan lebih tinggi.

Sungguhpun perkara ini dianggap sebagai perkara-perkara keduniaan tetapi keperluannya kepada manusia tidak dapat dinafikan. Justeru itu, manusia mengambil manfaat sekadar keperluannya sahaja, dan itu tidak dikira sebagai keduniaan tetapi sebagai memenuhi keperluan (hajat), dan keperluan ini adalah sebagai ketentuan yang mesti dipenuhi (darurat). Maka untuk menentukan pengambilan dan penggunaan perkara-perkara itu secara baik, sifat zuhud ini amat diperlukan untuk membendung diri dari kegelojohan nafsu manusia itu; nafsu syahawat dan nafsu membina rasa, melalui rasa keindahan dalam berbagai bentuknya.

Termasuk dalam perkara keduniaan juga ialah cinta hidup lama dan takut kepada mati. Allah berfirman:

Terjemahan: Dan mereka berkata, Tuhan kami, kenapakah Kamu mewajibkan ke atas kami berperang, mengapakah Kamu tidak membiarkan kami hingga ajal yang hampir.

Cita-cita ingin hidup lama dan takut kepada mati adalah dikira sebagai perkara keduniaan. Ini kerana dengan cita-cita itu kita seolah-olah ingin memanjangkan masa untuk memuaskan kecenderungan nafsu yang buas. Kita juga ingin memenuhkan masa dengan keseronokan yang bersifat sementara, yang mempunyai kemahuan tanpa batasan.

PERKARA KEDUNIAAN DAN KEPERLUAN

Melalui tujuh perkara yang disebut dalam ayat di atas, terdapat di dalamnya dua penilaian hukum, iaitu keduniaan dan keakhiratan. Jika penggunaan perkara-perkara yang disebutkan adalah sekadar keperluannya sahaja maka itu tidaklah dikira sebagai keduniaan tetapi sebagai darurat dan sebagai hajat yang mesti dipenuhi." Bagi mereka yang zuhud , perkara yang halal itu digunakan tidak lebih dari keperluan asasinya kerana mereka takut terlibat dengan persoalan yang lebih lama dan perkiraan yang lebih panjang di akhirat.

Dalam kita menilai keperluan yang wajib diambil kira sebagai penggunaan dan pengambilan yang tidak dapat dielakkan, maka keperluan itu hanya dilihat dari berbagai aspek. Ini kerana keperluan itu adalah berbagai; ada keperluan yang wujud dalam hubungan individu, keluarga, masyarakat dan ada dalam hubungan negara.

Jadi, supaya penyaluran dan penggunaan perkara-perkara di atas tidak membazir dan tidak melampaui batas-batas hukum, maka zuhud dapat memainkan peranan supaya penyaluran dan penggunaannya berlaku dengan sebaik-baiknya. Dengan itu penggunaan perkara-perkara itu bukan lagi bersifat keduniaan tetapi adalah untuk kepentingan akhirat dan keredaan Allah.

TINGKATAN-TINGKATAN ZUHUD

Dipandang kepada pencapaian manusia didapati zuhud itu ada beberapa peringkat;

1. Zuhud yang paling rendah ialah zuhud dari perkara-perkara keduniaan, iaitu walaupun pembawaan dan kecenderungan kepada keduniaan itu masih ada dalam dirinya, tetapi ia berjihad untuk cuba menjauhkan dirinya dan cuba mengelak darinya. Orang yang berada dalam tingkatan ini masih berada dalam bahaya iaitu sekiranya dia dikuasai maka dia akan terjerumus ke dalam lubuk keduniaan itu.

2. Zuhud yang pertengahan ialah apabila seseorang itu meninggalkan perkara-perkara keduniaan secara taat kepada hukum Allah s.w.t. Ini adalah untuk mengelakkan kehinaan dari perkara itu di samping kecenderungannya mencari ketaatan dan untuk mendapat keuntungan yang lebih dari Allah.

3. Zuhud yang paling tinggi ialah zuhud yang semata-mata taat kepada Allah dengan tidak ada sebarang pertimbangan yang lain. Baginya perkara dunia itu tidak ada nilai langsung. Ada atau tidaknya sama sahaja. Jika dibandingkan dengan nikmat di akhirat, dan dengan meninggalkan perkara itu dia tidak akan merasai apa-apa kesan pun. Zuhud dalam peringkat ini akan menyebabkan ia merasa aman di dalam dirinya kerana kesempurnaan ma'rifatnya dan tidak ada sebarang lintasan dalam dirinya terhadap perkara-perkara keduniaan itu.

TANDA-TANDA ZUHUD

Untuk mengetahui zuhud di dalam diri seseorang maka terdapat tiga petanda yang digariskan oleh Imam Ghazali iaitu:

1. Tidak merasa gembira dengan apa yang dapat dicapai dan tidak merasa dukacita dengan apa yang hilang, iaitu berdasarkan kepada firman ALlah s.w.t.;

Ini adalah tanda zuhud pada harta.

2. Sikapnya sama sahaja sama ada dipuji atau dicela. Ini adalah tanda zuhud pada pangkat dan kedudukan.

3. Sentiasa mendampingi diri dengan ALlah s.w.t. Hatinya sentiasa dipenuhi oleh kemanisan ketaatannya kepada Allah kerana sifat hati sememangnya tidak boleh kosong dari kemanisan dan kecintaan sama ada kepada Allah atau kepada yang lain.

ASAS ZUHUD

Tanda permulaan zuhud itu ialah memasukkan dalam hati ingatan yang patuh kepada akhirat, kemudian timbul kemesraan perhubungan dengan Allah s.w.t. Ingatan hati secara penuh kepada akhirat tidak boleh berlaku kecuali apabila seseorang itu hilang ingatan hati kepada keduniaan. Kemesraan perhubungan dengan Allah pula tidak boleh berlaku kecuali hilang kecenderungan hawa nafsu. Orang yang bertaubat dari dosa sedangkan ia tidak merasa kemanisan taat maka dirinya tidak akan terjamin aman dari mengulangi kembali, perbuatan dosanya dan orang yang meninggalkan perkara dunia sedangkan ia tidak merasa kemanisan zuhud maka ia akan kembali pula kepada keduniaan.16

KEPENTINGAN ZUHUD DALAM KEHIDUPAN MUSLIM

Zuhud sebagaimana yang dijelaskan, adalah menimbulkan kecenderungan untuk mengelak dan menyisihkan diri dari perkara-perkara keduniaan kerana taat kepada ALlah, iaitu mengelak diri dari perkara-perkara keduniaan yang menghalang dirinya dari sampai kepada tahap untuk menuju ke arah keredhaan Allah s.w.t.

Zuhud dapat menimbulkan kecenderungan hubungan yang tinggi di antara manusia dengan Allah s.w.t, iaitu hubungan yang diasaskan kepada rasa cinta dari ma'rifat Allah yang penuh melalui basirah. Di samping itu kesan yang baik dan menyeluruh berlaku dalam tindak-tanduk seseorang. Ini termasuklah mengambil segala perkara yang ada di hadapannya sekadar keperluan dan yang lebihan disalurkan untuk kepentingan kebajikan masyarakat.

Sumber: Minda Madani.

Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Technorati Tags:

Saturday, July 11, 2009

Cinta Allah

Rasulullah S.A.W bersabda:

“Jika Allah mencintai seorang Hamba maka Allah akan menjaganya dari(fitnah) dunia sebagaimana seorang diantara kamu menjaga orang yang sakit dari air.”     (Shahih Sunan AT-Tirmizi:1659)

Rasulullah S.A.W bersabda lagi:

“Sesungguhnya Allah akan menjaga hamba-Nya yang beriman dari dunia dan Allah mencintainya,sebagaimana kamu menjaga orang sakit dari makanan dan minuman yang kamu khuatirkan terhadapnya.”                                 (Shahih a-Jami’:1814)

 

Allah jika telah mencintai seorang hamba maka Allah akan menjaganya atau menjauhkannya dari kenikmatan duniawi.Allah menjauhkan kenikmatan duniawi itu dari dirinya dengan jalan menyusahkannya dalam mendapatkan kenikmatan itu yang kadang-kala dapat membawa pada kesengsaraan, agar kenikmatan duniawi itu tidak merosakkan kesucian hatinya dengan mencintai duniawi itu. Tidak sedikit manusia yang lalai akan kehidupan akhirat kerana terlena oleh kenikmatan duniawi itu.

Allah mencintai seseorang hamba maka Allah akan menjaganya dari kenikmatan duniawi sebagaimana seseorang di anatara kamu menjaga orang sakit dari meminum air jika itu dapat membahayakan jiwanya. Allah adalah penolong bagi wali-wali-Nya jika mereka mengingini perkara itu.

Seperti para doktor, melarang pesakit untuk mengambil beberapa jenis makanaan dan minuman jika dapat menambah parah penyakit atau membahayakan jiwa pesakit. Begitupun Allah akan menjaga dan melindungi hamba-Nya yang beriman dari kenikmatan dunia, sebagaimana keluarga pesakit menjaga orang yang sakit dari beberapa jenis makanan yang dikhuatirkan akan menambahkan penyakitnya.

Allah menjaga hamba yang dicintai-Nya dari pengaruh kenikmatan dengan tujuan agar hamba-Nya itu mendapatkan akibat yang baik dan membahagiakan.

Seseorang doktor melarang pesakitnya untuk mengambil beberapa jenis makanan dan minuman, adakah kamu menyangka bahawa doktor itu akan menyakiti dan menyeksa pesakitnya? Sudah tentu doktor itu bertujuan baik pada pesakit, kerana telah mengetahui bahawa dengan mengambil makanan itu maka penyakitnya akan bertambah parah dan bahkan akan membinasakannya. Jadi persamaan yang Allah sebutkan diatas merupakan keterangan yang sempurna akan perhatian dan kasih sayang Allah kepada hama-Nya yang dicintai.

Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan Cahaya Sakinah dan Rahmat dari Allah Ta'ala.

Technorati Tags:

Monday, June 22, 2009

Menjelajahi Dunia Tasauf

Maulana Mohd Asri Yusoff

Syarah Bukhari - Menjelajahi Dunia Tasauf


Harap Maaf Audio Kurang Memuaskan

*Sesiapa yang kurang faham..dengan bahasa yang digunakan, sila tanya orang yang lebih arif. Wallahu A'lam.

Pengertian Tasauf dan Tarikat

Tasauf adalah manhaj tarbiyah ruhiyah dan sulukiyah yang mengangkat manusia kepada martabat ihsan yang dinyatakan oleh Nabi Muhammad SAW yang bermaksud : "Hendaklah kamu menyembah Allah seolah-olahnya kamu melihatnya, maka jika kamu tidak melihatnya maka sesungguhnya dia (Allah SWT) melihatmu".

Maka tasauf itu merupakan program pendidikan (tarbiyah) yang menitik beratkan penyucian jiwa daripada pelbagai penyakit yang mendindingi manusia daripada Allah SWT. Ia juga membetulkan penyelewengan jiwa dan sulukiyah manusia dalam hubungan bersama Allah SWT, bersama yang lain dan juga dengan diri sendiri.

Tarekat sufiah pula ialah sebuah madrasah yang menyempurnakan melaluinya penyucian jiwa dan pembentukan peribadi. Syeikh pula sebagai pembimbing atau guru yang bersama-sama dengan muridnya.

Jiwa manusia secara tabiatnya terangkum di dalamnya pelbagai himpunan penyakit seperti takabbur, ujub, angkuh, keakuan, bakhil, marah, riya', sukakan maksiat, berkelakuan tak senonoh, gemar membalas dendam, kebencian, dengki, khianat, tamak dan rakus.

Firman Allah SWT yang mendedahkan kisah isteri Al-Aziz:

وَمَا أُبَرِّئُ نَفْسِي إِنَّ النَّفْسَ لأمَّارَةٌ بِالسُّوءِ إِلا مَا رَحِمَ رَبِّي إِنَّ رَبِّي غَفُورٌ رَحِيمٌ

Yang bermaksud : "Dan aku tidak membebaskan diriku (dari kesalahan), kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali nafsu yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang". [Surah Yusuf: 53]

Kerana itulah, golongan terdahulu menginsafi hal ini dan menyedari betapa perlunya pentarbiyahan jiwa dan membersihkannya dari segala penyakit-penyakitnya agar (penyucian tersebut) bersekali dengan masyarakat serta mencapai kejayaan dalam perjalanan menuju tuhan mereka.

Tarekat sufiah hendaklah melengkapi dengan beberapa perkara.

Pertamanya ialah pegangan kukuh dengan kitab Al-Quran dan Sunnah Nabawiah. Ini kerana tarekat sufiah itu ialah manhaj kepada Al-Quran dan As-Sunnah. Setiap perkara yang bercanggah dengan Al-Quran dan As-Sunnah maka ia bukan daripada tarekat. Bahkan tarekat itu sendiri menolaknya dan melarang daripadanya.

Kedua ialah tidak meletakkan tarekat itu sebagai pengajaran yang terpisah daripada pengajaran syariah, bahkan ia merupakan intisari kepada syariah.

Bagi tasauf terdapat tiga elemen utama yang digesa oleh Al-Quran akan ketiga-tiganya iaitu :

1-Menitikberatkan jiwa, sentiasa mengawasi jiwa (muraqabah) dan menyucikannya daripada sebarang kekotoran.

Firman Allah SWT:

وَنَفْسٍ وَمَا سَوَّاهَا ، فَأَلْهَمَهَا فُجُورَهَا وَتَقْوَاهَا ، قَدْ أَفْلَحَ مَنْ زَكَّاهَا ، وَقَدْ خَابَ مَنْ دَسَّاهَا

Yang bermaksud: "Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya rugilah orang yang mengotorinya". [Asy-Syams : 7-10]

2-Memperbanyakkan zikrullah.

Firman Allah SWT:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اذْكُرُوا اللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا

Yang bermaksud : "Hai orang-orang yang beriman, berzdikirlah (dengan menyebut nama) Allah, zikir yang sebanyak-banyaknya". [Al-Ahzab: 41]

Sabda Rasulullah SAW yang bermaksud: "Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT".

3-Zuhud di dunia, tidak terikat dengan dunia dan gemarkan akhirat.

Firman Allah SWT:

وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَلَلدَّارُ الآخِرَةُ خَيْرٌ لِلَّذِينَ يَتَّقُونَ أَفَلا تَعْقِلُونَ

Yang bermaksud : "Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sesungguhnya kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertaqwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?". (Al-Anaam : 32)

Adapun syeikh yang memperdengarkan kepada murid-muridnya akan zikir-zikir dan yang membantu usaha menyucikan jiwa dari sebarang kekotoran serta menyembuhkan hati mereka daripada penyakit-penyakit maka dia adalah penyelia (qayyim) atau seorang guru (ustaz) yang menunjukkan cara yang tertentu yang paling sesuai dengan penyakit yang ada atau keadaan murid itu sendiri.

Petunjuk Nabi SAW juga menasihatkan setiap manusia dengan perkara yang mendekatkan diri kepada Allah SWT berdasarkan kepada keadaan setiap jiwa yang berbeza. Pernah seorang lelaki datang menemui Rasulullah SAW, lalu dia berkata : Wahai Rasulullah ! Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang menjauhkan diriku daripada kemurkaan Allah SWT. Maka sabda Rasulullah SAW : Jangan kamu marah !. Dalam kes yang lain, Rasulullah SAW didatangi seorang lelaki yang berkata kepada Rasulullah SAW : Beritahu kepadaku tentang sesuatu yang aku boleh berpegang dengannya ! Jawab Rasulullah SAW : Sentiasakanlah lidahmu dalam keadaan basah mengingati Allah SWT.

Di kalangan para sahabat terdapat golongan yang membanyakkan qiamullail, antara mereka juga yang memperbanyakkan bacaan Al-Quran, ada yang banyak terlibat dengan jihad, ada yang banyak berzikir dan ada yang membanyakkan bersedekah.

Perkara ini tidak membawa erti meninggalkan terus keduniaan. Tetapi di sana terdapat suatu ibadat tertentu yang memperbanyakkannya oleh orang yang melalui jalan menuju Allah SWT. Secara asasnya berbilang-bilangnya pintu-pintu syurga. Tetapi pada akhirnya walaupun ada kepelbagaian pintu masuk tetapi syurga tetap satu.

Sabda Nabi SAW yang bermaksud : "Setiap golongan yang melakukan amalan (baik dan soleh-ketaatan) ada satu pintu daripada pintu-pintu syurga yang memanggilnya oleh amalan, dan bagi puasa itu ada satu pintu yang memanggil golongan yang berpuasa, digelarkannya ar-rayyan".

Demikian juga tarekat-tarekat, ia mempunyai berbilang-bilang jenis berdasarkan syeikh masing-masing dan murid masing-masing. Antara mereka ada yang mengutamakan puasa, ada yang mengutamakan al-Quran lebih banyak dan tidak mengabaikan puasa dan demikianlah seterusnya.

Apa yang dijelaskan di atas adalah tasauf yang sebenarnya, tarekat yang sahih dan syeikh-syeikh yang komitmen dengan Al-Quran dan As-Sunnah. Kita juga telah mengetahui kenapakah berbilang-bilangnya jenis tarekat, iaitu kerana kepelbagaian cara pentarbiyahan dan rawatan serta perbezaan cara untuk mencapai maksud yang dicita-citakan. Akan tetapi keseluruhannya satu sahaja pada maksud dan tujuan iaitulah keredhaan Allah SWT sebagai tujuan utama.

Kami juga ingin mengingatkan bahawa apa yang dinyatakan di atas tidak dilaksanakan oleh sebilangan besar golongan yang mendakwa sebagai ahli tasauf iaitu golongan yang merosakkan bentuknya. Mereka di kalangan orang yang tidak mempunyai agama dan kebaikan. Mereka yang melakukan tarian pada hari-hari perayaan dan melakukan amalan keghairahan yang khurafat. Ini semua bukan daripada tasauf dan bukan dari jenis tarekat sufiah. Sesungguhnya tasauf yang kami nyatakan tentangnya tiada hubungan langsung dengan pandangan kebanyakan manusia berhubung fenomena negatif yang memburukkan. Tidak harus juga bagi kita untuk mengenali tasauf dan menghukumkan ke atasnya dari kalangan sebahagian pendakwa-pendakwa tasauf yang jahil (yang mendakwa tarekat sebagai ajaran yang salah). Sepatutnya kita bertanyakan ulama' yang memilih tasauf sehingga kita memahami punca sanjungan mereka terhadap tasauf.

Untuk akhirnya, kami mengambil kesempatan ini untuk membantah pendapat golongan yang menyatakan : "Kenapakah tidak dipelajari adab-adab sulukiyah dan penyucian jiwa dari Al-Quran dan As-Sunnah secara langsung?".

Pendapat ini pada zahirnya terkandung rahmat. Tetapi pada hakikatnya terkandung azab. Ini kerana kita tidak mempelajari rukun sembahyang, sunat-sunat sembahyang dan perkara-perkara makruh dalam sembahyang dengan semata-mata melalui bacaan Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi kita mempelajarinya melalui suatu ilmu yang dikenali sebagai ilmu feqah.

Fuqaha' telah menyusunnya dan mengistinbatkan semua hukum-hakam tersebut daripada Al-Quran dan As-Sunnah. Bagaimana pula lahirnya kepada kita mereka yang mendakwa bahawa kami mempelajari fiqh dan hukum agama daripada kitab dan sunnah secara langsung? Kami tidak pernah mendapati seorang ilmuan/ulama' yang mempelajari fiqh daripada kitab dan sunnah secara terus.

Demikian juga, di sana terdapat perkara yang tidak disebut oleh Al-Quran dan As-Sunnah. Tetapi tidak dapat tidak daripada mempelajarinya dengan guru secara musyafahah (secara berdepan atau mengadap guru).

Tidak boleh sekadar melalui kitab, sebagai contohnya ilmu tajwid. Bahkan mestilah beriltizam dengan mustalah-mustalah yang khusus dengannya. Maka ulama' menyatakan sebagai suatu contoh : "Mad Lazim enam harakat" ! Siapakah yang menjadikannya sebagai mad lazim? Apa dalilnya dan siapakah yang mewajibkannya ke atas ummat Islam? Tentunya mereka adalah ulama' dalam bidang tersebut.

Begitu juga dengan ilmu tasauf. Ilmu yang diasaskan oleh ulama'-ulama' tasauf sebermula zaman Junaid rahimahullah dari kurun yang keempat sehingga hari ini. Ketika rosaknya zaman tersebut dan rosaknya akhlak, rosaklah juga sebahagian tarekat-tarekat kesufian. Mereka mula bergantung dengan fenomena-fenomena yang bercanggah dengan agama Allah SWT. Lantas manusia menganggap ianya merupakan tasauf. Sedangkan Allah SWT akan mempertahankan tasauf, ahlinya dan melindungi mereka dengan kekuasaannya.

Firman Allah SWT:

إِنَّ اللَّهَ يُدَافِعُ عَنِ الَّذِينَ آمَنُوا إِنَّ اللَّهَ لا يُحِبُّ كُلَّ خَوَّانٍ كَفُورٍ

Yang bermaksud: "Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman. Sesungguhnya Allah tidak menyukai tiap-tiap orang yang berkhianat lagi mengingkari nikmat". [Al-Hajj: 38]

Mudah-mudahan apa yang dinyatakan itu dapat memberikan pendedahan kepada erti tasauf, tarekat, syeikh, sebab berbilang-bilangnya tarekat, kenapa kita mempelajari suluk, penyucian hati dari ilmu yang dikenali sebagai tasauf ini, kenapa kita ambil dari syeikh dan tidak terus kembali kepada Al-Quran dan As-Sunnah.

Kita memohon kepada Allah untuk memperlihatkan secara jelas terhadap urusan-urusan agama kita.

(Terjemahan teks asal berbahasa Arab)

Terjemahan bebas daripada teks asal, Jawapan Sahibul Samahah Prof. Dr. Ali Jumuah, Mufti Kerajaan Negara Mesir yang dinaqalkan daripada Al-Bayan Lima Yashqholu Al-Azhan, cet. Al-Muqattam, Kaherah, hlm. 328-331.

kaabah

solat

Pandangan Ibnu Khaldun tentang ahli tasauf.

Telah berkata Ibnu Khaldun dalam kitab Muqaddimahnya:
“Ilmu tasauf ini, terkandung dalam ilmu syariat yang ada dalam agama. Asal-usul perjalanan orang-orang sufi telahpun wujud semenjak zaman sahabat, tabi’in dan salafussoleh. Jalan ini juga adalah satu jalan yang benar lagi mendapat petunjuk”.

Katanya lagi,
“Asal perjalanan mereka ,(ahli tasauf) iaitu memberi sepenuh tumpuan ibadah kepada ALLAH S.W.T dan berpaling daripada perhiasan dunia dan apa yang orang ramai cari yang terdiri daripada kelazatan, harta benda, pangkat dan mereka mengasingkan diri daripada manusia untuk beribadah kepada ALLAH S.W.T”.

 

*Sila dengar audio dan baca teks.

Wallahu A'lam. Hanya mengharapkan cahaya sakinah dan rahmat dari Allah Ta'ala.

Tuesday, April 21, 2009

Tanda Cinta Allah

Jika Allah telah mencintai seseorang hamba maka Allah akan menyinari orang itu dengan cahaya petunjuk-Nya dan akan nampak darinya tanda-tanda bahawa manusia akan menerimanya,ia juga akan memiliki tanda dari kecintaan Allah itu kepadanya berupa keindahan dan kewibawaan hingga manuasia akan memandangnya denga pandangan kasih sayang dan penuh kemuliaan, Kamu akan menemukan bahawa setiap manusia condong kepadanya dan menerimanya secara keseluruhan.

Firman Allah S.W.T:

“ Itulah kurnia Allah yang Allah berikan kepada siapa yang dikehendakiNya. Dan Allah mempunyai kurnia yang besar ”

                                                                  (Al-Hadid:22)

Dari hadith ini boleh disimpulkan bahawa jika seseorang diterima di hati manusia, maka yang demikian itu merupakan tanda kecintaan Allah kepadanya perkara yang menguatkan ini adalah sabda Rasulullah yang berbunyi :

“ Kamu adalah saksi-saksi Allah di atas bumi ”

                                            (HR.Al-Bukhari)

Hadith ini adalah cermin besarnya kasih sayang Allah kepada hamba-hambaNya kerana seorang hamba jika ia mendengar dari TuhanNya bahawa Allah telah mencintainya maka ia mendapatkan kebahagian yang sebenarnya dan dengan kecintaan Allah itu ia akan mendapatkan segala kebaikan. Kecintaan Allah ini akan didapati oleh manusia yang dalam jiwanya terdapat kepasrahan dan pergantungan yang kuat kepada Allah sebagaimana yang difirmankan Allah dalam kitabNya:

“ Dan tiadalah mendapat pelajaran kecuali orang-orang yang kembali(kepada Allah) ”

                                                                  (Al-Mukmin:13)

Bagi orang yang di dalam dirinya terdapat kebodohan dengan menjadikan syahwat sebagai penguasa dirinya maka seksaan Allah adalah ganjarannya. Hadith ini mengandungi anjuran untuk melakukan perbuatan baik dengan berbagai macam bentuknya baik yang sunnah mahupun yang wajib. juga terkandung dalam hadith di atas suatu peringatan agar manusia tidak melakukan perbuatan buruk lainnya yang dapat menyebabkan kemurkaan Allah.

Allah berfirman yang bermaksud:

“ Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan yang beramal soleh, kelak Allah yang Maha Pemurah akan menanamkan di dalam hati mereka rasa kasih sayang. ”

                                                                       (Maryam:96)

Haram bin Hayyan berpendapat tentang ayat ini, Jika seseorang telah dicintai Allah maka Allah akan menjadikan hati-hati orang yang beriman condong kepadanya hingga Allah akan mengurniakan orang yang dicintai-Nya itu dengan kecintaan mereka dan kasih sayang mereka kepadanya.

Berkata Ibnu Katsir: “Melalui ayat ini Allah telah mengkhabarkan kepada kita bahawa kepada hamba-Nya yang beriman dan yang melakukan amal baik iaitu perbuatan-perbuatan yang diredhai Allah maka kepada mereka Allah akan menanamkan kasih sayang dan kecintaan kepada orang-orang yang dicintai Allah ini adalah suatu perkara yang pasti dan tidak boleh tidak. Sedangkan Al-Mujahid berpendapat “ Bahawa maksud ayat tersebut di atas adalah bahawa orang yang beriman dan melakukan amal soleh maka ia akan mendapat simpati dan kecintaan manusia kepadanya selama di dunia.”

Thursday, April 9, 2009

Jika Aku Jatuh Hati

Hamba Yang Dicintai Allah

Setiap pekerjaan memiliki buah yang akan dipetik dan buah yang dipetik itu adalah buah yang sejenis dengan pohonnya,jadi sesiapa yang amal perbuatannya dicintai dan diredhai Allah bererti ia kekasih Allah dan sesiapa yang amal perbuatannya dibenci Allah maka ia hamba yang di benci Allah.

Persoalannya bukanlah masalah untuk mencintai Allah tetapi yang pentingnya, bagaimana agar dapat menjadi hamba Allah yang di cintai-Nya. Agar cinta-nya itu memberi kebaikan,kebahagian, kemenangan, keselamatan, di dunia dan di akhirat. Alangkah ruginya orang yang di benci Allah.

Orang yang di cintai Allah akan dimasukkan ke salah satu tingkatan di antara beberapa tingkatan yang ada di syurga dan Allah akan menambahkan nikmat-Nya kepada mereka. Orang yang di murkai Allah pula akan di humbankan ke neraka, seksaan yang sesuai dengan dosa yang di lakukan.

Jika Allah Mencintai seorang Hamba, Dia Akan Diterima Oleh Penduduk Bumi

solat2

Sabda Rasulullah s.a.w “Sesungguhnya Allah jika telah mencintai seorang hamba,maka Dia akan mmanggil malaikat Jibril dan berkata: Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan,maka cintailah dia,maka malaikat Jibril pun mencintainya kemudian malaikat Jibril menyeru di langit: ‘Sesungguhnya Allah telah mencintai si fulan,maka cintailah dia’, maka seluruh penghuni langit pun mencintainya dan dia akan diterima oleh seluruh penduduk bumi.” (Hadith Riwayat. Al-Bukhari).

Di antara buah kecintaan Allah yang akan diterima oleh hamba Allah yang dicintai-Nya adalah orang yang dicintai Allah itu akan di terima oleh penghuni bumi iaitu bahawa orang yang di cintai Allah itu akan dicintai manusia, manusia akan simpati dan redha kepadanya dan manusia akan berkeyakinanb bahawa di dalam dirinya terdapat kebaikan dan manusia juga akan berusaha untuk mencegah datangnya bahaya kepadanya dengan semampu mungkin.

Technorati Tags: ,,,,

Sunday, March 29, 2009

Taubat Dan Dosa

Nabi S.A.W mempertegaskan hal taubat dan dosa ini dalam sebuah hadis, tetapi perlulah berhati-hati memahami maksud dari hadis ini, iaitu :-

وَالَّذِي نَفْسِي بيده لو لم تُذْنِبُوا لَذَهَبَ الله بِكُمْ وَلَجَاءَ بِقَوْمٍ يُذْنِبُونَ فَيَسْتَغْفِرُونَ اللَّهَ فَيَغْفِرُ لهم

Ertinya : Demi nyawaku di tangan Allah, sekiranya kamu (manusia) tidak melakukan dosa, nescaya Allah akan melenyapkan kamu dan mendatangkan satu kaum lain yang berdosa lalu mereka menyesal dan meminta keampunan Allah, kemudian Allah akan mengampunkan mereka" ( Riwayat Muslim, no 2749, 4/2106)

Saya kira, mungkin hadis di atas juga mungkin boleh membawa kebimbangan sama yang anda utarakan kepada saya. Tetapi ia perlulah difahami sebaiknya.

At-Tibi menjelaskan maksudnya dengan berkata :-

قال الطيبي ليس الحديث تسلية للمنهمكين في الذنوب كما يتوهمه أهل الغرة بالله فإن الأنبياء صلوات الله وسلامه عليهم إنما بعثوا ليردعوا الناس عن غشيان الذنوب بل بيان لعفو الله تعالى وتجاوزه عن المذنبين ليرغبوا في التوبة

Berkata At-Tibi : Bukanlah hadis ini untuk menggembirakan puak-puak yang sibuk melakukan dosa sebagaimana yang disangka oleh orang-orang tertipu, tetapi sebenarnya ia bagi menjelaskan bahawa dibangkitkan para nabi bagi menghalang manusia dari terus ditutupi dosa-dosa lalu menerangkan keampunan Allah dan mendatangkan semangat ahli maksiat untuk bertaubat ( Tuhfatul Ahwazi, 7/193 )

sila rujuk:

sholat                         Muhasabah, Iman dan Amalan

Syeikh Ibn Atoillah As-Sakandari seorang ulama terkenal dalam bidang sufi dalam salah satu kata hikmahnya menyebut :-

معصية أورثت ذلاَ وانكسارا , خير من طاعة أورثت عزَا واستكبارا

Ertinya : "Satu maksiat yang menyebabkan kamu merasa kerdil, rendah diri, hina dan hancur hati ( kerana penyesalan dan taubat)  lebih baik dari melakukan taat yang menjadikan kamu merasa agung, bangga dan hebat ( sehingga tahap ujub)"

Saya juga tertarik dengan satu lagi kata hikmah beliau sebelum itu yang berbunyi :-

ربما قضى عليك بالذنب فكان سبب الوصول

Ertinya : Berkemungkinan ditaqdirkan bagimu melakukan satu dosa sebagai sebab musababab untukmu sampai kepada keredhaan Allah swt (dengan rasa rendah diri, hina dan akhirnya berubah menjadi soleh)

Dr Syeikh Muhammad Said Ramadhan Al-Buti dalam menghuraikan kedua-dua hikmah ini membawakan dalil berikut sebagai sokongannya :

إِلَّا مَن تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلًا صَالِحًا فَأُوْلَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَّحِيمًا

Ertinya : kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; maka kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. Dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang (Al-Furqan : 70)

Seseorang yang menyesali sebenar-benarnya keterlanjuran dosanya dan merasakan kepedihan dan kehinaan diri kerananya adalah merupakan salah satu bentuk cara Allah swt mengazabnya di dunia lagi bagi menyelematkan di akhirat, dan boleh menjadi sebab Allah menukarkan selepas azab tersebut dengan kebaikan yang lebih banyak. (Al-Hikam Al-‘Atoiyyah : 3/147)

Benarlah kata hikmah ulama yang menyebutkan : "Sesungguhnya tangisan dan sedu sedan seorang yang terjatuh dalam maksiat kerana pedih dan sesal kerana maksiatnya sudah pasti lebih dicintai oleh Allah swt dari tasbih orang yang menunjuk-nujuk sambil berasa ujub terhadap kebaikan dirinya"

ruj:

Salam.. Chat.


ShoutMix chat widget

Followers

As-Syahid Izzuddin Al-Qassam (1871 - 20 Nov 1935)

Nama sebenar beliau adalah Muhammad Izzuddin Abdul Qadir Mustafa Al-Qassam. Lahir di daerah Al-Ladziqiyyah, Syria Selatan. Masuk ke Al-Azhar sekitar tahun 1906 pada usia 14 tahun. Sempat berguru dengan Sheikh Muhammad Abduh dan berteman dengan Sheikh Rasyid Redho. Ketika penjajahan kuffar di Libya pada 1911, beliau turut memobilisasi senjata dan para mujahid untuk turun ke Libya. Setiap operasi jihad yang dipimpin oleh beliau di Palestin membuahkan kejayaan besar yang menakutkan Inggeris yang menjajah Palestin saat itu. Beliau syahid dalam satu pertempuran dahsyat di Kota Jenin, bersama 10 orang mujahid yang digempur dengan ratusan pasukan Inggeris yang menggunakan helikopter. Kini, nama beliau disematkan kepada sayap ketenteraan Hamas iaitu Brigade As-Syahid Izzuddin Al-Qassam yang sering dikenal dengan aksi-aksi pelancaran roket Al-Qassam dan operasi Amaliyyah Al-Istisyhadiyyah. 


My News

islamiconlineuniversity.com

Learn How to give Dawah

Alafasy Quran TV - Syeikh Misyari Rasyid Al-Afasy

Radio Rodja - Menebar Cahaya Sunnah - Kuliah Hadist

Iklan Nuff